-Alan Pov-
"Alaaaaannnn!" teriak ibuku dari bawah. Ibuku memang sering sekali memanggilku sambil berteriak. "Tolong pergi ke minimarket dan belikan ibu tisu!" lagi-lagi sambil berteriak. Dengan malas kuangkat tubuhku menuju dapur untuk mengambil uang dan payung karena di luar hujan cukup deras. Dengan sedikit hati-hati aku berjalan menyusuri jalanan komplek rumah yang becek karena hujan yang belum berhenti dari tadi siang. Minimarketnya tidak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 500 meter. Pada saat aku melewati sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar berwarna hitam, aku melihat ada sesosok orang yang sedang berdiri di pagar tersebut dan memegang gembok. Mungkin dia ingin menggembok pagarnya, karena memang sudah malam. Tetapi sosok itu seperti ku kenal dan tidak asing kelihatannya. Setelah aku mengarahkan mataku lebih lama ke arah sosok itu, ternyata pria tersebut adalah seniorku!
AAAAARRRGGGHHHH, kenapa harus ketemu dia lagi sih? Bukan! Kenapa rumahnya harus berdekatan sih? Saat aku melihat wajahnya, dia tersenyum, berusaha menyapa diriku. Yah mau bagaimana lagi, terpaksa aku tersenyum juga. Mungkin dia tidak bisa melihat wajahku yang berada dibawah payung. Tetapi aku rasa dia tahu kalau aku adalah orang yang dia kenal. Setelah aku tersenyum ke arahnya, aku melanjutkan perjalananku ke minimarket untuk membeli tisu.
*beberapa jam kemudian*
Saat aku melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 21.30. Mataku sudah lelah karena dari tadi aku duduk di depan laptop, browsing mengenai review film yang akan ditayangkan tahun depan. Tidak sabar rasanya melihat film-film hollywood tahun depan. Berbagai genre film ada, dari action, drama komedi, horor, dan banyak lagi. Hmm, akhirnya aku mematikan laptop dan mengarahkan tubuhku ke tempat tidurku yang nyaman ini. Udara dingin, menyelimuti diri dibawah selimut yang nyaman sungguh sebuah kenikmatan tiada tara. Dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap.
-Gevin Pov-
Wah, dia melihat ke arahku!! Apa yang harus aku lakukan? Menyapanya? Aku kan tidak tahu namanya! Ya sudahlah aku hanya akan senyum, walaupun terpaksa. Hmm, ternyata dia membalas senyumanku. Hanya terlihat bibirnya saja, matanya tertutup bayangan payung yang dia pegang.
Setelah ku gembok pagar, aku kembali ke dalam rumah. Rumah istana yang dingin ini, selalu diriku merindukan ayah dan ibu. Mereka sungguh baik dan pengertian. Aku rindu mereka. Aku memutuskan untuk tidur lagi karena besok aku harus ke kampus pagi.
KRIIIIIINGGGGGGGG
Alaram jam mejaku berbunyi kencang dan mengagetkan ku. Saat aku mematikannya dan melihat jam, menunjukkan pukul 6.00. Aku segera mandi dan bersiap-siap untuk ke kampus. Setelah rapi, aku menuju ke meja makan, ternyata mbok sudah menyiapkan sarapan. Sambil menyeruput teh, aku menghabiskan sarapan ku. Pagi ini cuacanya cerah, aku hanya berharap tidak akan hujan seperti kemarin. Karena sore ini mobilku baru selesai. Selesai sarapan dan sudah rapi, aku mengeluarkan motorku dari rumah. Memerlukan waktu sekitar 30 menit perjalanan ke kampusku. Seperti biasa, aku mencari parkiran yang berada di bawah pohon agar terlindung dari panas matahari. Saat aku menemukan satu tempat teduh, aku mengarahkan motorku ke tempat tersebut. Saat moncong motorku hampir masuk, tiba-tiba ada motor lain yang mengambil tempat itu. Langsung emosiku memuncak karena aku duluan yang melihat tempat itu. Setelah orang yang merebut tempat parkir ku tersebut turun dari motor, aku membuka kaca helm ku agar mendapat penglihatan jelas terhadap mukanya. ARGH!!!! Dia lagi! Astaga, mengapa harus dia? Saat aku melihat wajahnya yang mengerenyit karena cuaca yang panas, emosiku tiba-tiba hilang berganti menjadi sebuah kebahagian melihat wajah dari dekat.
DEG
Apa yang aku pikirkan??? Kok malah bahagia? Ah, sudahlah, lebih baik aku mencari tempat lain. Akhirnya aku meninggalkan dirinya dan mencari tempat parkir teduh lainnya.Untung saja aku bisa mendapatkan tempat teduh lainnya. Hari ini cukup cerah, semoga saja tidak hujan tiba-tiba. Setelah aku memarkirkan motorku dengan benar, aku menuju ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku untuk mengerjakan tugas UAS yang deadline nya tidak lama lagi.
Perpustakaan hari ini cukup ramai karena cuaca yang panas, dan sejuknya AC perpustakaan menggoda orang-orang untuk mencari tempat untuk mendinginkan tubuh. Aku pun sempat duduk diam selama 5 menit untuk mendinginkan tubuhka yang kepanasan. Huuuffff, memang serba salah, hujan ya salah, panas ya salah. Memang dasar manusia.
Saat aku ingin keluar dari perpustakaan, aku melihat ke luar pintu perpustakaan yang terbuat dari kaca. Terlihat si juniorku itu lewat depan perpustakaan. Hmm, aku merasa aneh, belakangan ini aku sering sekali bertemu, meilhat, atau berpas-pasan dengan dia. Walaupun sebenarnya aku tidak keberatan karena memang aku tidak ada masalah dengannya. Setelah aku mengambil tas yang aku titipkan di resepsionis, aku segera keluar dari perpustakaan dan menuju kelas.
Kali ini aku tidak sekelas dengan juniorku itu. Kelas saat itu berjalan selama 1 setengah jam, karena dosen yang mengajar di kelas itu ada urusan penting yang harus dia hadiri. Aku tidak menyangka kelas akan lebih cepat selesainya bingung harus kemana. Tidak ada keinginan untuk langsung pulang karena aku malas untuk pulang. Oh iya, aku harus ke bengkel mengambil mobilku yang sudah lima hari disana. Semoga saja semua sudah benar sehingga aku bisa memakai mobilku kembali.
-Alan Pov-
Huft, hari ini aku harus mengurusi pembayaran kuliahku. Karena sebentar lagi sudah UAS dan aku harus segera membayar, jika tidak maka aku tidak diizinkan untuk mengikuti perkuliahan. Setelah selesai dengan urusan pembayaran aku memtuskan untuk cabut dari kelas. Tidak ada sama sekali keinginan untuk masuk kelas hari ini. Entah mungkin karena cuaca yang panas, atau memang aku sedang malas. Akhirnya aku memtuskan untuk mengunjungi Tria yang sedang pulang ke rumahnya. Sudah lama tidak melihat ayah ibu Tria.
Aku sudah kenal Tria cukup lama, sejak itu aku sudah kenal sekali dengan ayah dan ibu Tria. Seaktu SMA aku sering main ke rumahnya dan sering sekali ngobrol dengan kedua orang tuanya. Untung besok sabtu, jadi aku bisa pulang malam hari ini. Rumah Tria lumayan jauh dari kampus, tetapi rumahku untungnya tidak terlalu jauh dari rumah Tria. Aku sampai ke rumahnya dan aku langsung menyalami ibunya yang sedang membersihkan halaman belakang. Rumah Tria cukup besar, dengan interior yang sederhana dan terkesan "jadul" membuat rumah Tria menjadi rumah yang cukup berseni. Saat aku bilang jadul adalah seperti rumah-rumah di tahun 70-an dengan furniture kayu dan sofa beludru, rak-rak buku kayu tua, pajangan hewan-hewan yang diawetkan.
Tria ternyata sedang berada di kantor ayahnya yang berada 3 rumah jauhnya dari rumah Tria, dengan berjalan kaki kulangkahkan kakiku dengan cepat karena aku tidak sabar untuk bertemu Tria. Saat aku sampai disana, ENG ING ENG!!! Ternyata si seniorku itu sedang ngobrol dengan ayahnya Tria. Ayah Tria adalah pemilik bengkel mobil. Bengkel mobil tersebut cukup terkenal karena bisa dikatakan pelayanannya yang terpercaya dan cepat.
Hal yang aku heran, mengapa belakangan ini aku bertemu dengan dia. Aneh, sungguh aneh. Huh, ya sudahlah, selama dia tidak menggangguku tidak apa-apa. Aku mendatangi Tria yang sedang duduk di meja respsionis. "Hai Tri, lagi apa?" sapaku.
"Lagi browsing aja. Baru sampe?" jawabnya malas.
"Iya, eh, makan yuk, laper nih!"
"Nggak ah, udah makan. Kalo mau makan sana."
"Ah Tria, males makan sendiri nih! Temenin!" sambil mencubit pelan tangan Tria.
Lalu entah dari mana seniorku sudah ada di sampingku. "Hai Tria, lagi apa?" tanya dirinya sambil tersenyum.
"Eh, kak Gevin. Udah selesai mobilnya?" jawab Tria yang dari lemas tiba-tiba tersenyum merekah.
"Belum Tri, masih harus nunggu sampe 2 jam lagi."
"Oh ya udah, gimana kalo kita makan dulu?" aja Tria sambil menarik tangan Gevin.
"Boleh-boleh, yuk! Eh iya, temennya Tria mau ikut nggak?" tanyanya pada diriku yang heran dengan sikap Tria yang tiba-tiba berubah.
"E...eh...hmm... boleh deh." jawabku ragu-ragu.
Huh! Dasar Tria, nggak bisa lihat cowo bening sedikit langsung aja capernya minta ampun! Akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk ikut makan dengan mereka. Aku merasa seperti nyamuk, saat makan siang aku hanya diam dan mendengar mereka ngobrol panjang lebar. Mereka seperti sudah kenal lama saja, sangat akrab mereka ngobrol. Hmm, bagus lah kalau Tria bahagia, sudah lama nggak lihat senyum Tria yang cantik. Sebenarnya mereka cukup cocok jika pacaran. Hihihi, lucu juga ya.
-Gevin Pov-
Astaga, ternyata dia lagi! Mengapa harus ketemu lagi deh? Emang nggak cukup ya ketemu sekali? Jangan-jangan dia ikutin aku kesini? hah, nggak mungkin. Dia kan nggak kenal aku. Ah ya sudah lah, lagi pula dia juga nggak ganggu aku.
Akhirnya aku tahu namanya dari Tria tadi saat makan siang. Tetapi anaknya ternyata pendiam banget. Hmm, Alan, entah mengapa aku jadi kepikiran dirinya terus. Karena aneh sekali, belakangan ini kami terus bertemu secara tidak sengaja. Dia lucu, mukanya yang polos dan seperti seorang kutu buku. Matanya penuh rasa penasaran, bagai sedang menebak-nebak sesuatu. Ah, aneh, entah mengapa aku ingin sekali untuk mengenal dirinya lebih jauh.
*keesokan harinya*
Huft, hari yang panas. Hari ini aku harus ke tempat katering karena mbok sedang pulang kampung. Untung tempat katering itu tidak jauh dari rumah, sekitar 100 meter. Aku jalan kaki ke tempat katering itu. Sebenarnya katering itu sebuah industri rumahan, memang terkenal usaha katering itu, banyak orang di komplekku yang menggunakan jasa itu untuk acara nikahan, khitanan, ataupun untuk katering sehari-hari. Karena aku kurang suka untuk membeli makanan instan atau makanan di luar akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan jasa tersebut.
Hmm, rumah tersebut hari ini terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Ku lihat ada tombol bel di salah satu tiang kayu yang menahan atap garasi rumah tersebut, ku tekan bel tersebut dan terdengar suara bel, "Assalamualaikum". Tidak lama, pintu depan rumah tersebut terbuka, sesosok pria yang nampaknya seumuran dengan ku keluar sambil meletakkan tangannya di atas matanya karena cuaca yang panas ini membuat matanya silau. Saat kuperhatikan lebih baik, ternyata pria tersebut adalah Alan! Jadi rumahnya disini? Jadi selama ini ibu katering langgananku memiliki anak yang satu kampus dengan ku? Bodohnya aku tidak tahu kalau ternyata selama ini aku dan Alan adalah tetangga. "Ada apa mas mencari siapa?" tanya Alan yang masih menutupi kedua matanya karena silau.
"Oh, iya saya mau mencari ibu Yani. Saya mau pesan katering." jawabku.
Lalu Alan tidak langsung menjawab, dia berusaha membuka matanya dan melihat ke arahku. Saat dia melihat ku, matanya terbelalak dan berkata, "Eh kak Gevin!"
"Eh Alan!" responku yang pura-pura tidak tahu kalau itu adalah Alan.
"Eh...iya...hmm....Ibunya lagi ke luar kota 3 hari sama ayah. Soalnya Ibu dapet kerjaan katering di luar kota" jawab Alan sambil tergugup-gugup. Entah mengapa dia gugup.
"Yaaahhh, padahal aku kan mau pesan katering." jawabku kecewa.
"Maaf ya kak Gevin." balas Alan.
"Hmm, ya udah kalau gitu sebagai gantinya kamu harus temenin aku cari makan!"
"Lho kok begitu?" tanya Alan dengan muka sedikit bingung.
"Iya karena aku baru tahu kalau ibumu keluar kota, nah makanya kamu harus temenin aku. Sekalian biar makin kenal, masa satu komplek, satu kampus, satu jurusan, dan satu kelas nggak kenal sama sekali sih?"
"Hmm, ya udah deh. Aku belum belum mandi, kak Gevin tunggu aku di dalem aja ya."
"Oke!"
Rumahnya yang sederhana sungguh rapi. Sepi sekali memang suasana di komplek kami. Hmm, wangi bawang goreng tercium sekali di rumah ini. Wajar lah ya, ibunya adalah tukang katering. Alan keluar mengambil handuknya, saat kembali ke dalam dia hanya menggunakan celana pendek alias telanjang dada. Tubuhnya lumayan bagus, terlihat otot-otot halus di tangannya. "Kak Gevin mau tunggu disini atau tunggu di atas?" tanya Alan.
"Di atas juga boleh." jawabku sambil senyum.
Saat aku duduk di sofa yang ada di atas, Alan datang sambil membawa segelas sirup berwarna merah dengan es batu. Hmmm, memang nikmat sih minum sirup siang panas begini. "Sebentar ya kak Gevin, aku mandi dulu." kata Alan sambil meninggalkan ku. Alan masuk ke kamar mandi yang hanya berjarak 2 meter dari tempatku duduk.
Saat aku sedang melihat layar handphoneku, tiba-tiba.......... (bersambung)
No comments:
Post a Comment