Yori masih terkejut pada saat melihat Jeremy terlentang di tempat tidur dengan telanjang bulat dan memperlihatkan seluruh tubuhnya yang membuat Yori lemas tak berdaya. Tubuhnya yang putih tanpa bulu, puting merah yang menggoda, dengan perut yang sedikit buncit, sungguh membuat Yori tak berdaya dan bingung. Lalu dengan polosnya Yori bertanya, "Kamu lagi apa? Kok telanjang begitu? Nanti masuk angin lho!".
Lalu Jeremy tertawa seketika dan menjawab, "Kamu ada-ada aja sih, emang ga boleh aku telanjang di depan pasangan aku sendiri?"
"Ya ngga apa-apa sih sebenernya, tapi emang kamu ga malu?"
"Malu sama siapa? Sama kamu? Ya ngga lah. Tapi kamu ga apa-apa kan aku telanjang?"
"Hmmm, sebenernya sih aku agak kaget. Aku bingung aja tiba-tiba kamu telanjang gitu."
"Ya udah, aku pake lagi deh boxer aku"
Saat Jeremy sedang menaikan boxernya, tiba-tiba Yori yang telanjang dada memeluknya dari belakang. Yori bisa merasakan hangatnya punggung Jeremy, lalu Yori mengecup tengkuk Jeremy, aroma tubuh Jeremy yang khas membuat Yori terbang keawang-awang. Lalu masih dalam keadaan dipeluk, Jeremy membalik badannya dan melihat mata Yori lalu mencium bibir Yori dengan lembut, rasa mentol terasa dari mulut Yori yang baru saja sikat gigi, lalu bibir Jeremy turun ke leher Yori, nafas Jeremy meresap ke dalam kulit Yori. Tiba-tiba Yori mendorong tubuh Jeremy, "Aku belum siap, aku tahu sudah satu tahun, tapi aku belum siap. Maaf ya sayang."
"Ngga apa-apa kok, aku juga ga maksa kamu. Aku bisa cium dan peluk kamu lumayan mengurangi rasa ingin aku untuk berhubungan seks." jawab Jeremy santai.
Tiga hari itu mereka menikmati waktu bersama mereka di Bali, lalu malam terakhir mereka di Bali, suatu hal yang membuat mereka semakin terikat dengan satu sama lain terjadi. Mereka akhirnya berhubungan seks, saling bercumbu, bercengkrama, menikmati saat-saat mereka berdua. Yang diperlukan Yori hanyalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan hasratnya untuk bercinta dengan Jeremy, Jeremy juga pintar dalam memilih waktu yang tepat bagi mereka untuk melakukannya.
Malam terakhir mereka di Bali mereka habiskan untuk berjalan-jalan santai di pantai Kuta sambil membicarakan segala hal. Pada saat mereka sedang duduk dan Jeremy sedang menikmati rokoknya (Jeremy mulai merokok sebulan lalu), tiba-tiba Jeremy dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki berbaju motif pantai berwarna merah dengan celana pendek, seumuran dengan Jeremy, rambutnya hitam legam, botak, sedang berjalan-jalan di pantai sendiri. Pria tersebut adalah mantan Jeremy yang sudah putus 6 bulan sebelum Jeremy berhubungan dengan Yori. Jeremy pada awalnya tidak ingin menyapa karena dia takut Yori merasa tidak nyaman dengan kehadiran mantannya, tetapi ternyata pria tersebut melihat Jeremy dan menyapa Jeremy, "Hai Jer, apa kabar? Wah, ga nyangka ya kita ketemu disini!". Jeremy menjawab dengan sedikit panik, "Eh, iya, apa kabar Joe?".
"Baik, lagi liburan Jer? Sama siapa?"
"Iya lagi liburan sama pasangan."
"Oooh, sama pasangannya?"
"Iya, ini kenalin pasangan gue, namanya Yori."
Yori bangun dan menyalami tangan Joe, "Halo, nama gue Yori."
"Halo, gue Joe." sambil tersenyum.
"Temennya Jeremy ya?" tanya Yori.
Dengan sedikit tergagap Joe menjawab, "Eh...hm.... bisa dibilang gitu sih."
Jeremy menyambung jawaban Joe, "Maksudnya dia sekarang kita temenan. Dia mantan aku Yor."
Sambil menahan ekspresi terkejutnya Yori menjawab, "Ooo, mantan."
Keadaan hening sekitar 5 detik. Keadaan itu adalah 5 detik terlama yang pernah Jeremy alami dan benar-benar membuat dirinya seperti dihempas ombak. Jeremy yang khawatir akan reaksi Yori langsung berkata, "Oh iya, udah malem dan besok kita mau pulang ke Jakarta. Jadi kita balik dulu ya Joe."
"Oh iya, ngga apa-apa. Good luck ya!" jawab Joe ramah.
Sepertinya Joe memang tidak ingin membuat keadaan semakin tidak nyaman dan Joe melakukan langkah yang pintar. Tanpa banyak basa basi lagi dia menjauh dari Jeremy dan Yori agar tidak terjadi salah paham. Jeremy sedikit tenang dengan sikap Joe yang tidak seperti dulu lagi. Manja berlebihan, berapi-api jika berbicara dengan orang baik yang sudah kenal maupun yang baru kenal, dan rasa ingin tahu yang besar akan urusan orang lain nampaknya sudah berkurang. Akhirnya Jeremy dan Yori sampai di hotel dan sepanjang perjalanan ke hotel mereka tidak bicara sama sekali.
Keheningan tersebut terpecah saat Jeremy bertanya, "Kamu udah packing belum sayang?". "Sudah kok, tinggal masukkin baju kotor besok pagi aja." jawab Yori santai.
"Kamu ga marah sama aku kan?"
"Hah? Marah kenapa ya Jer?"
"Soalnya tadi habis ketemu Joe, kamu langsung diem, ga ngomong apa-apa"
"Aku kira kamu lagi kesel atau gimana. Soalnya kamu juga ga ngajak aku ngobrol makanya aku diem."
"Aku ga kesel, aku cuma khawatir sama perasaan kamu. Kan biasanya kalo pasangan kita ketemu mantan kita keadaan bisa memburuk."
"Oh kalo masalah Joe aku sih ga apa-apa. Dia orangnya kayaknya baik."
"Iya, dia baik kok. Hehehe." Jeremy yang tidak ingin menjelek-jelekkan Joe di depan Yori langsung mengajak Yori untuk tidur. Jeremy tahu bahwa Joe bukanlah orang baik, Joe adalah orang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan rela menduakan Jeremy demi mendapatkan seorang pengusaha kaya raya yang sudah mempunyai istri. Jeremy sudah tidak ada rasa sayang lagi ke Joe, hanya kasihan.
No comments:
Post a Comment