Saturday, October 13, 2012

Cinta di Parkiran Motor

-Alan Pov-

"Ah, mendung! Padahal baru cuci motor hari ini, kampus aneh, nggak punya parkiran basement!" gerutuku pada diriku sendiri yang mengeluh mengenai kelengkapan fasilitas kampusku yang aneh. Padahal kampus ini memiliki banyak mahasiswa yang menggunakan motor sebagai alat transportasi mereka. Tetap saja pihak kampus masih tidak memberikan parkiran basement dengan alasan yang banyak dan sulit untuk diterima alasannya. Aku yang baru saja sampai siang itu, langsung berjalan menuju ke tempat penitipan helm yang tidak jauh dari tempat aku parkir. Setelah kutitipkan helm dan jaketku, kupercepat langkahku menuju kelas karena setelah aku melirik jam tanganku, aku sudah terlambat 10 menit.

Masih dengan nafas yang terengah-engah, ku memasuki kelas dan ternyata belum ada dosen. Segera aku mencari tempat duduk, seperti biasa aku suka duduk dibagian tengah kelas. Karena tidak terlalu jauh dari papan tulis dan tidak terlalu menjadi pusat perhatian. Tidak seperti temanku Vivian, seorang jenius politik yang selalu bangku terdepan dan terdekat dengan dosen. Kuliahku yang sangat erat hubungannya dengan dunia politik terkadang membuatku kewalahan dalam mengikuti pelajaran yang diberikan. Tugas yang diberikan pun terkadang benar-benar tidak memakai hati nurani dengan deadline seminggu. Tetapi karena saat ini aku sudah berada di semester 5 maka tidak ada kata mundur untukku.

"Woi! Ngelamun aja!" sapa Tria yang baru saja datang dan ternyata lebih telat dari diriku.

"AH! Ngagetin aja sih!" balasku yang sedikit terkejut dengan suaranya yang lantang.

" Lagian ngelamun udah kayak orang mati, ga bergerak sama sekali. Eh, udah ngerjain tugasnya Pak Bram belum?" tanya Tria.

"Udah, baru selesai tadi malam dan rasa ngantuknya menyerang sekarang!" jawabku sambil mengusap-usap mata kiriku yang gatal.

"Duh gimana nih, gue udah ngerjain tapi entah kenapa gue lupa ngeprint itu tugas!" kata Tria sambil menepuk dahinya.

Huh, Tria, sahabatku yang satu ini sebenarnya cerdas, entah mengapa sifat pelupanya tidak pernah hilang. Nama panjangnya adalah Triana Sukmawati. Saking pelupanya, dia pernah tidak membawa tas ke kampus dan akhirnya dia harus kembali ke kosannya yang untung saja tidak jauh dari kampus. Walau pelupa, dia satu-satunya orang yang selalu ada disampingku saat senang maupun susah. Kami kenal dari pertama kali orientasi mahasiswa, kami sekelompok dalam pelaksanaan orientasi tersebut dan kami langsung berteman baik karena kebetulan kami memiliki hal yang sama-sama kami gemari yaitu film. Terkadang akhir minggu kami habiskan bersama untuk menyaksikan banyak film di kosan Tria.

Aku melihat ke arah jendela kelas yang berada di tengah ruangan kelas. Hujan turun dengan derasnya dan langit menjadi sangat gelap. Angin meniup pohon-pohon palem yang ditanam di lahan kampus. Entah kenapa hujan selalu membuat hatiku sedih dan menjadi syahdu. Aku teringat lagi akan motorku yang baru saja aku cuci dan membuatku semakin sedih. Perkuliahan berjalan selama dua setengah jam, saat namaku dipanggil untuk diabsen, ku angkat tanganku, saat aku menurunkan tanganku tidak sengaja sikutku menyenggol perut salah satu seniorku yang mengulang kelas yang sama denganku. "Eh, maaf" seruku. Nampaknya dia tidak mendengar kata maafku dan langsung menuju ke pintu untuk segera keluar dari ruangan ini. Tria yang sedang menunggu gilirannya untuk diabsen langsung senyum-senyum saat dia lewat depan Tria. Seniorku yang satu itu memang digemari banyak wanita-wanita di kelasku karena tubuhnya yang bisa dikatakan atletis, wajahnya yang memiliki karakter garang, attitudenya yang membuat wanita sempoyongan, tetapi sayangnya dalam politik tidak terlalu pintar, maka dari itu dia mengulang kelas yang sama denganku.

Aku pun segera menuju ke kantin untuk mencari cemilan karena ternyata kelas selama dua setengah jam cukup menguras tenagaku. Tria tidak ikut karena dia harus les bahasa Inggris yang letaknya tidak jauh dari kampus. Akhirnya aku duduk sendirian di satu meja di kantin yang letaknya jauh dari keramaian sambil menikmati cemilan dan minuman bersoda yang baru saja aku beli di kantin. Setelah cemilan habis, aku menyulut sebatang rokok. Ku hisap dalam-dalam rokok tersebut, kutarik asapnya sehingga mengisi seluruh rongga paru-paruku, dan ku hembuskan asapnya. Ya, aku seorang perokok, sejak SMA kelas 2 aku sudah mulai merokok. Hujan masih belum berhenti, akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan buku catatanku dan mencoret-coret buku tersebut dengan beberapa sketsa yang membentuk rumah. Ternyata hujan masih deras setelah sekitar setengah jam ku berkutat dengan bukuku. Huft, bagaimana aku bisa pulang?

-Gevin Pov-

Aaaaarrrrgghhhh, kelas hari ini sungguh membosankan seperti biasa! Benar-benar aku tidak berbakat dalam politik. Seharusnya aku memilih untuk masuk ke sebuah sekolah musik karena aku ingin sekali menjadi seorang komposer musik yang hebat. Membuat musik untuk menginspirasi banyak orang di dunia. Tetapi malah terjebak disini, dunia politik yang diciptakan oleh seseorang dan untuk suatu hal yang mereka inginkan. Rasanya aku sudah bosan untuk kuliah, ingin cepat-cepat menjadi seorang komposer. Tetapi apa daya, aku sudah terjebak disini.

Setelah kelas membosankan itu, aku memutuskan untuk pulang, tetapi hujan menghentikanku untuk menjalankan niat tersebut. Lagi-lagi hujan deras, padahal kemarin baru saja ganti celana jeans, eh hujan lagi. Kasihan si mbok kalau disuruh cuci jeans-jeans aku yang berat. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan menuju ke kantin, aku menuju sebuah kantin yang menjual kebab, karena kelas membosankan itu membuat perutku lapar. Kebab bisa menyembuhkan kebosananku, ku pesan satu kebab ukuran besar dan sebotol minuman teh kemasan.

Tidak lama, kebab pesananku datang dan langsung saja ku melahap habis kebab tersebut. Sungguh kenyang perut ini, membuat mataku lelah dan ingin sekali aku tidur. Kantuk ini sungguh membuatku menjatuhkan kepala ke atas meja kantin. Secara perlahan ku tertidur di atas meja kantin, tanpa memperdulikan sekitar aku menikmati tidur siang kilatku.

JEGEEERRRRR

Suara petir membangunkanku dan tiba-tiba jantungku berdetak kencang karena bangun secara tiba-tiba. Ku melihat sekitar kantin yang tadinya ramai semakin sepi. Aku melihat ada satu orang yang masih duduk di ujung sana, berkutat dengan bukunya dan mukanya yang penuh dengan kejenuhan. Hmm, mungkin dia jenuh karena menunggu hujan. Saat aku memicingkan mata, ternyata orang tersebut adalah juniorku. Ah, aku lupa namanya, ingin ku sapa tapi aku tidak enak, tidak terlalu kenal. Biarkan sajalah, sepertinya dia sedang asik mengerjakan tugas.

Ugh, hujan masih saja deras. Aku memutuskan untuk memesan teh hangat manis untuk mengahangatkan tubuhku yang tiba-tiba menggigil kedinginan. Aku berjalan ke salah satu kios untuk memesan teh hangat, kebetulan kios tersebut dekat dengan meja yang sedang ditempati juniorku itu. Hmm, apa aku harus menyapanya?

Setelah aku selesai memesan dan membayar teh, aku berniat untuk mendatangi mejanya dan menyapanya. Sayang sekali dia sudah tidak ada di meja itu. Hmm, lagi-lagi aku sendirian menunggu hujan ini. Ya, setelah teman-teman seangkatanku banyak yang sudah lulus ataupun sedang mengerjakan skripsi aku menjadi satu-satunya orang di angkatanku yang masih suka berkeliaran di kampus. Ada perasaan sedih saat aku tahu hanya aku yang belum memulai skripsiku. Tapi ya sudahlah, kalau hanya sedih tidak akan selesai.

Teh yang ku pesan sudah datang, ke coba menyeruput teh itu. Hmm, manisnya pas, aku suka teh manis dengan tingkat kemanisan seperti ini. Manis dan tidak membuat tenggorokan gatal karena gula yang berlebihan. Teh ku sudah habis setengah gelas dan hujan pun berhenti. Ku tinggalkan kantin dan bergegas ku menuju parkiran tempat motorku berada karena aku ingin sekali sampai di rumah dan tidur.

-Alan Pov-

Setelah akhirnya aku bosan berkutat dengan buku catatanku, ku tutup buku itu dan ku masukkan buku ku ke tas. Saat aku mengangkat kepalaku, aku melihat ada seorang pria yang tampaknya tidak asing, dia menuju ke sebuah kios yang tidak jauh dari mejaku. Oh, ternyata senior ku yang menjadi pujaan hati para wanita itu. Hmm, biasanya dia langsung pulang. Apakah dia menunggu hujan juga? Kan biasanya dia bawa mobil. Ah sudahlah, aku nekat saja pulang, aku sudah bosan menunggu hujan yang tak kunjung berhenti ini!!!

Ku arahkan diriku ke parkiran motor, ternyata hujannya masih terlalu deras. Akhirnya aku hanya bisa berdiri diam di dekat lapangan parkir motor sembari menunggu hujan reda. Tak lama hujan reda, tanpa ragu aku menuju tempat penitipan helm, ku tukarkan kartu bernomor 12 yang menandakan nomor loker helm ku. Setelah aku membayar, ke keluarkan kunci motorku dari saku celana kiriku dan ku masukkan kunci motor ke lubang kuncinya. Saat aku hendak mengeluarkan motor dari parkiran, secara tiba-tiba ada motor lain berasal dari arah berlawanan dan ban motor kami saling beradu. Untung saja tidak parah atau pun fatal, hanya beradu dan membuat motor kami berhenti.

OH GOSH!!! Ternyata itu adalah motor seniorku, DAMN! Kenapa sih harus dia lagi, tadi di kelas nggak sengaja aku sikut, sekarang ban motor kita beradu. Dengan muka yang sedikit jutek aku memarahi seniorku itu, "Lihat dong petunjuk arahnya! Nggak bisa liat arah panahnya kemana?"

"Namanya juga buru-buru, lagi pula petunjuk arahnya juga ketutup genangan air!" jawabnya ketus.

Ternyata benar, genangan air menutupi petunjuk arah yang berada di bawah kami. Akhirnya tanpa berkata lebih banyak lagi aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Begitupun seniorku itu. Benar-benar deh hari ini membosankan dan aneh.

-Gevin Pov-

Pffttt, benar-benar bosan tingkat kecamatan deh! (lebay) Mana itu anak ngeselin lagi, kan namanya juga nggak sengaja. Tapi, lucu mukanya kalau lagi cemberut tadi, kayak anak kecil minta susu. Eh, kenapa jadi mikirin mukanya sih? Aneh ah! Saat aku sampai rumah, hujan pun lanjut turun dengan derasnya tanpa ragu. Hanya ada satu hal yang kusukai kalau sedang hujan seperti ini yaitu TIDUR! Melanjutkan tidurku yang terputus karena petir itu.

TANG TANG, TENG TENG, TENG TENG

Suara handphone ku, ternyata ada telepon. Saat ku lihat layar handphone ku ternyata telepon dari mas Rudi, salah satu dosen muda yang sering nongkrong bareng bersamaku dan teman-teman seangkatanku dulu. "Halo?" sambil membenarkan posisiku menjadi duduk.

"Halo? Gev, dimana?" jawab mas Rudi.

"Di rumah mas kenapa?"

"Yah, baru mau gue ajak main futsal sama anak-anak!"

"Duh, males gue mas. Soalnya mobil gue lagi di bengkel, kalau naik motor juga males, hujan deras di rumah gue."

"Oh ya sudah, next time lah ya."

"Oke deh mas, have fun ya mas! Salam buat anak-anak yang lain."

"Pastinya!"

Ku tutup perbincangan singkat itu dan kembali posisi ku terlentang di atas tempat tidur. Ku lihat jam di handphone dan waktu menunjukkan pukul 19:30. Ternyata lama juga aku tertidur, perutku berbunyi tanda lapar belum diisi. Aku berjalan menuju ruang makan, aku melihat mbok sedang menyiapkan makan malam. Lagi-lagi sendiri, mama dan papaku sudah tiada. Mereka meninggal 3 tahun lalu dikarenakan kecelakaan saat mereka sedang ingin pergi ke Bali dalam rangka merayakan anniversary mereka yang ke 25. Meninggalkan aku dan kakakku, seorang wanita karir sukses dan saat ini dia sedang berada di London, Inggris. Dia disana sebagai seorang public relation yang pawai dalam bidangnya. Saat ini aku hidup dari warisan kedua orang tuaku, kakakku setuju kalau semua warisan mama papa menjadi milikku sendiri. Terkadang aku merasakan sebuah kesepian yang amat sangat. Aku melahap makananku dalam waktu 10 menit, melihat senyum mbok karena makanannya dihabiskan membuatku juga merasa senang. Mbok ku yang bernama mbok Imah, tidak bisa bicara. Dia mengalami sebuah penyakit aneh yang menyebabkan lidahnya lumpuh.

Aku menuju ke halaman depan untuk menggembok pintu depan. Saat aku akan memasukkan gembok ke lubang yang ada di pagar, aku di kejutkan oleh kehadiran seseorang. Orang tersebut tidak asing, dia jalan di depan rumahku, melambai ke arahku dan senyum. Juniorku! (to be continued)

No comments:

Post a Comment