Monday, October 1, 2012

Bertemunya Mereka

Hari ini Yori datang ke kampus sangat terburu-buru karena dia terlambat masuk kelas. Untung saja dosennya kali ini sangat toleran. Dia duduk di kursi yang berada di bagian tengah. Dia membuka jaketnya dan mengelap peluhnya yang meluncur turun di dahinya menggunakan sapu tangan putih yang ia selalu bawa setiap hari. Lalu tiba-tiba saja pintu kelas terbuka dan dia melihat seseorang yang menurutnya asing. Orang tersebut bermuka manis, bibir merah merekah dan mata coklat muda yang membuat hati Yori berdebar cepat. Pria itu memakai kemeja biru malam, dengan lengan dilipat dan jam tangan silver yang melilit ditangan kirinya. Ya, Yori seorang gay. Dia menyukai sesama jenis semenjak umur 16 tahun. Sudah 4 tahun lebih dia mempunya hasrat penyuka sesama jenis.
Lalu pria itu duduk disebelah Yori, aroma tubuhnya seperti kayu pinus. Berkesan misterius dan membuat Yori semakin penasaran. Kelas berlangsung selama 2 jam siang itu. Pada saat Yori keluar dari kelas, dia merasakan tangannya seperti ditarik oleh seseorang. Ternyata yang menarik tangan tersebut adalah pria asing tadi yang duduk disebelahnya. "Hai, gua Jeremy." Sapanya ramah. "Hmm, lo Yori kan? Apa kabar?" Lalu Yori menjawab dengan sedikit gugup dan malu, "Iya, gua Yori. Kok lo tau nama gua?" "Iya, gua tau nama lo soalnya gua cek di daftar kelompok mata kuliah Manajemen kita sekelompok." Jawabnya.
Sembari mereka berjalan ke arah kantin, mereka berdua saling berbicara seakan sudah mengenal satu sama lain. Mereka menaruh tas mereka di meja. Letak meja yang mereka tempati berada di bagian terjauh dari kios-kios kantin kampus mereka. Di meja tersebut ada 3 kursi besi dan 1 meja besi yang terkena percikan air karena hujan baru saja berhenti. "Yor, gua mau pesen makanan dulu ya! Lo mau makan apa?" sembari beranjak dari kursi. Lalu Yori menjawab sambil memberikan uang dua puluh ribuan ke Jeremy, "Gua mau bubur ayam aja, jangan pedes ya." Lalu Jeremy segera menuju ke arah kios bubur ayam yang berada di ujung jauh dari meja mereka. Pada saat menunggu Jeremy, Yori membaca novel percintaan kesukaannya dan mendengarkan musik dari headsetnya. Beberapa menit kemudian Jeremy datang dengan membawa satu nampan yang berisikan dua mangkuk bubur ayam dan dua gelas teh manis hangat juga tidak lupa uang kembalian.
Saat mereka mulai menyantap bubur ayam masing-masing, tiba-tiba gerimis mengguyur. Untung saja meja yang mereka tempati menggunakan payung. Sepanjang mereka menyantap bubur ayam, tidak ada yang saling berbicara. Yori terlalu gugup untuk berbicara kepada Jeremy, sedangkan Jeremy yang seorang gym freak mempunyai nafsu makan yang besar sehingga dia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya sebelum ia selesai makan. Beberapa saat kemudian, Jeremy sudah menghabiskan buburnya dan meneguk teh hangatya hingga tersisa setengah gelas. "Gimana semester 3 ini? Susah? Atau mungkin lebih enjoy?" tanya Jeremy. "Hmmm, gimana ya? Kayaknya lebih enjoy deh, soalnya mata kuliahnya walaupun susah tapi udah terbiasa, jadi sedikit lebih ringan." Jawab Yori.
"Good! Gua sebenernya udah semester 5, tapi gua masih harus ulang beberapa mata kuliah yang ada di semester 3. Makanya ketemu lo deh, dan kebetulan kita sekelompok untuk presentasi UTS nanti." Balas Jeremy
Lalu Yori tersenyum, "Oh, ternyata lo senior ya? Pantes aja gua agak asing ngeliat lo. Hehee, wajar gua agak ansos. Abis kuliah gua langsung pulang biasanya."
"Oh, ga apa-apa kok, santai aja. Gua juga agak ansos kok, bukannya males sama orangnya tapi gua males aja gitu nongkrong mulu, udah keseringan nongkrong soalnya."
"Kalo ke kampus naik apa?" tanya Yori.
Sambil menyeka bibirnya yang merah dengan tisu, "Naik mobil, kenapa?"
Dengan muka yang sedikit terkejut, "Oh, ga apa-apa. Cuma tanya aja kok."
"Ooo, lo naik apa?" tanya Jeremy singkat
"Gua naik kendaraan umum. Rumah lo dimana Jer?"
"Rumah gua di daerah Pondok Indah, lo?"
"Bintaro, wah ga jauh ya?"
"Iya, hari ini lo naik apa?"
"Naik kendaraan umum, soalnya ujan."
"Ya udah, nanti pulang bareng gua aja. Lo udah ga ada kuliah kan untuk hari ini?"
"Hmm, udah ga ada kuliah sih. Tapi ngga usah deh, ngerepotin."
"Ya elah, santai aja lagi sama gua. Oke? I insist!"
"Well, okay! Makasih yaa." Jawab Yori sambil tersenyum.
Lalu mereka bersenggama selama sejam menunggu gerimis berhenti, tetapi sepertinya awan tidak menujukkan tanda gerimis akan berhenti. Mereka berdua berlarilari kecil menuju ke tempat parkiran yang berada tidak jauh dari kantin dan memasuki mobil. Dalam perjalanan mereka membicarakan seputar mata kuliah yang mereka ambil sambil mendengarkan lagu yang dilantunkan oleh Michael Buble. Ternyata siang itu jalanan cukup padat karena hujan. Bau aspal basah tercium pada saat Yori membuka jendela untuk membetulkan posisi spion sebelah kiri. Pada akhirnya mereka sampai di depan rumah Yori, "Makasih ya Jer udah dianterin sampe rumah."
"Sama-sama, besok kalo lo berangkat naik kendaraan umum lagi, telepon gua aja. Biar gua jemput, kan besok kita kelasnya sama lagi kan?" tanya Jeremy.
Dengan sedikit mengeluarkan senyum kecut, "Hmmm, waduh jadi ngerepotin. Ga usah deh, kan repot kali harus jemput gua."
"Ya elah, santai aja. Oke?" balas Jeremy.
"Ya udah deh. Oh iya, nomer lo berapa?" sambil mengeluarkan handphone nya. Setelah bertukaran nomor, Yori keluar dan Jeremy melambaikan tangan dari dalam mobil dan meninggalkan Yori yang masih berdiri lemas karena dia baru saja diantar pulang oleh orang yang ia sukai. Malam harinya Yori membaringkan tubuhnya ke kasur kesayangannya sambil memikirkan Jeremy. Betapa ia mengagumi kebaikan Jeremy mengatarkannya ke rumah padahal mereka baru saja kenal. Ia membayangkan tangan Jeremy yang kekar menggenggam tangannya, dan wangi tubuhnya yang menurutnya misterius membuatnya semakin bergejolak di dalam hati. Selama empat tahun dia mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya, baru pertama kali ia merasa bahwa ia benar-benar menyukai seseorang. Membuatnya ingin berbuat apa saja demi Jeremy.
Keesokkan paginya setelah Yori mandi, tiba-tiba handphone nya berdering. Ternyata dari Jeremy, "Hai Yor, udah siap?"
Dengan wajah yang kebingungan, "Udah siap apaan?"
"Berangkat lah! Gua udah on the way ke rumah lo" sambut Jeremy di ujung telepon.
"Oh, ngapain?"
"Menurut lo? Ya jemput lo lah!"
"Ooohh, iya! Gua lagi pake baju kok, nanti kalo udah sampe SMS gua aja."
"Oke, buruan yaa!"
"Sip! See you!"
"Bye"
Setelah Yori menaruh handphone nya di atas meja, dia segera berpakaian dan menjemur handuknya di jemuran. Beberapa menit kemudian Yori menerima SMS dari Jeremy dan segera berpamitan kepada ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman depan. Yori tinggal berdua bersama ibunya, ayah Yori sudah tiada 3 tahun yang lalu karena terkena penyakit kanker otak sedangkan kakaknya berada di New York bekerja di kedutaan besar Indonesia. Yori membuka pintu pagar dan menuju ke arah mobil Jeremy.
"Hai, itu nyokap?"
"Iya, kenapa?"
"Gak apa-apa, nyokap sendiri di rumah?"
"Iya." Dengan raut muka yang tiba-tiba berubah kelam.
"Kenapa? Kok tiba-tiba kayak sedih gitu? Emangnya ga ada orang di rumah?" tanya Jeremy.
"Ga ada, kakak lagi di luar negri, kerja. Bokap udah ga ada."
"Ooo, maaf ya. Gua jadi lancang sama lo."
"Ga apa-apa kok." Sambil tersenyum kecut.
Lalu Jeremy segera memacu mobilnya ke arah kampus. Pagi itu cukup cerah, dan jalanan di Jakarta seperti biasa macet. Sekitar 30 menit mereka tempuh untuk sampai di kampus. Sesampainya di kampus, mereka segera menuju kelas. Untung saja mereka tidak telat. Hari ini mereka hanya ada satu kelas saja dan kelas mereka hari ini hanya berdurasi satu jam. Satu jam kemudian mereka keluar kelas dan Jeremy bertanya kepada Yori, "Cewe lo anak kampus ini?"
"Hah? Cewe? Belum punya cewe gua." Jawabnya santai.
Dengan sedikit tersenyum, "Masa sih?"
"Serius kok, masa iya kali gua bohong"
"Oh ga apa-apa sih, biasanya kan tipe cowo kayak lo pasti punya cewe selalu"
"Maksudnya selalu?"
"Iya, ada aja cewe yang mau sama lo."
"Yang mau sih banyak Jer, tapi yang gua mau belum ada."
"Tapi lo udah pernah pacaran?"
"Udah, dua kali. Lo?"
"Belum pernah..."
"Kenapa? Kok bisa, kan lo kayak termasuk tipe idaman cewe. Baik, kalem, muka juga lumayan, putih pula!"
"Mungkin belum jodoh aja Jer." Balasnya dengan muka bingung.
"Kenapa? Kok kayaknya ada sesuatu yang disembunyiin"
"Ga apa-apa kok. Maksudnya disembunyiin apa?"
"Iya, kayaknya ada sesuatu yang lo belum kasih tau gua."
"Ga ada ah, ga ada yang penting kok."
"Yakin?"
"Iya, kenapa sih lo? Kok aneh?"
"Biasa aja, lo aja yang aneh. Ditanya gitu aja panik, ketahuan deh!"
"Ga panik kok.... ketahuan... apa sih...?" jawabnya terbata-bata.
Lalu Jeremy meninggalkan Yori yang sedang kebingungan dengan semua pertanyaan tadi. Jeremy menuju ke mobilnya dan Yori menyusul dari belakang. "Jer, maksud lo apa?" Tiba-tiba sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Yori terjadi, Jeremy mencium bibir Yori sambil memeluknya erat hingga tubuh mereka beradu. Selama sekitar sepuluh detik mereka berciuman akhirnya Jeremy melepaskan kecupannya dari bibir Yori dan menatap mata Yori sangat dalam dengan muka yang serius. Pada saat itu yori tidak bisa berkata apa-apa dan yang ia bisa lakukan hanyalah diam dan menatap Jeremy. Setelah mereka saling menatap Yori menampar Jeremy tepat di pipi kirinya. Tak lama Yori mencium bibir Jeremy kembali. Ternyata mereka berdua selama ini saling menyukai satu sama lain. 
"Jer, maaf gua tampar lo. Jujur gua syok."
"Ga apa-apa, aku ngerti kok. Lo pasti kaget kan gue cium lo tiba-tiba?"
"Ga juga, karena gue berharap lo suka sama gue, karena gue udah lama suka sama lo."
"Gue suka sama lo semenjak gue duduk disamping lo."
"Gue suka sama lo sejak pertama kali ngeliat lo."

Mereka terdiam selama beberapa menit memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba saja Yori pingsan karena dia belum sempat sarapan sebelum berangkat ke kampus. Lalu dia mengalami sesuatu yang membuatnya syok sehingga membuat otaknya sangat terbebani. Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu kelanjutannya di cerita selanjutnya yang berjudul "Pasangan Baru" Cheers!

No comments:

Post a Comment