Friday, October 26, 2012

Cinta di Parkiran Motor (2)

-Alan Pov-

"Alaaaaannnn!" teriak ibuku dari bawah. Ibuku memang sering sekali memanggilku sambil berteriak. "Tolong pergi ke minimarket dan belikan ibu tisu!" lagi-lagi sambil berteriak. Dengan malas kuangkat tubuhku menuju dapur untuk mengambil uang dan payung karena di luar hujan cukup deras. Dengan sedikit hati-hati aku berjalan menyusuri jalanan komplek rumah yang becek karena hujan yang belum berhenti dari tadi siang. Minimarketnya tidak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 500 meter. Pada saat aku melewati sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar berwarna hitam, aku melihat ada sesosok orang yang sedang berdiri di pagar tersebut dan memegang gembok. Mungkin dia ingin menggembok pagarnya, karena memang sudah malam. Tetapi sosok itu seperti ku kenal dan tidak asing kelihatannya. Setelah aku mengarahkan mataku lebih lama ke arah sosok itu, ternyata pria tersebut adalah seniorku!

AAAAARRRGGGHHHH, kenapa harus ketemu dia lagi sih? Bukan! Kenapa rumahnya harus berdekatan sih? Saat aku melihat wajahnya, dia tersenyum, berusaha menyapa diriku. Yah mau bagaimana lagi, terpaksa aku tersenyum juga. Mungkin dia tidak bisa melihat wajahku yang berada dibawah payung. Tetapi aku rasa dia tahu kalau aku adalah orang yang dia kenal. Setelah aku tersenyum ke arahnya, aku melanjutkan perjalananku ke minimarket untuk membeli tisu.

*beberapa jam kemudian*

Saat aku melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 21.30. Mataku sudah lelah karena dari tadi aku duduk di depan laptop, browsing mengenai review film yang akan ditayangkan tahun depan. Tidak sabar rasanya melihat film-film hollywood tahun depan. Berbagai genre film ada, dari action, drama komedi, horor, dan banyak lagi. Hmm, akhirnya aku mematikan laptop dan mengarahkan tubuhku ke tempat tidurku yang nyaman ini. Udara dingin, menyelimuti diri dibawah selimut yang nyaman sungguh sebuah kenikmatan tiada tara. Dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap.

-Gevin Pov-

Wah, dia melihat ke arahku!! Apa yang harus aku lakukan? Menyapanya? Aku kan tidak tahu namanya! Ya sudahlah aku hanya akan senyum, walaupun terpaksa. Hmm, ternyata dia membalas senyumanku. Hanya terlihat bibirnya saja, matanya tertutup bayangan payung yang dia pegang.

Setelah ku gembok pagar, aku kembali ke dalam rumah. Rumah istana yang dingin ini, selalu diriku merindukan ayah dan ibu. Mereka sungguh baik dan pengertian. Aku rindu mereka. Aku memutuskan untuk tidur lagi karena besok aku harus ke kampus pagi.

KRIIIIIINGGGGGGGG

Alaram jam mejaku berbunyi kencang dan mengagetkan ku. Saat aku mematikannya dan melihat jam, menunjukkan pukul 6.00. Aku segera mandi dan bersiap-siap untuk ke kampus. Setelah rapi, aku menuju ke meja makan, ternyata mbok sudah menyiapkan sarapan. Sambil menyeruput teh, aku menghabiskan sarapan ku. Pagi ini cuacanya cerah, aku hanya berharap tidak akan hujan seperti kemarin. Karena sore ini mobilku baru selesai. Selesai sarapan dan sudah rapi, aku mengeluarkan motorku dari rumah. Memerlukan waktu sekitar 30 menit perjalanan ke kampusku. Seperti biasa, aku mencari parkiran yang berada di bawah pohon agar terlindung dari panas matahari. Saat aku menemukan satu tempat teduh, aku mengarahkan motorku ke tempat tersebut. Saat moncong motorku hampir masuk, tiba-tiba ada motor lain yang mengambil tempat itu. Langsung emosiku memuncak karena aku duluan yang melihat tempat itu. Setelah orang yang merebut tempat parkir ku tersebut turun dari motor, aku membuka kaca helm ku agar mendapat penglihatan jelas terhadap mukanya. ARGH!!!! Dia lagi! Astaga, mengapa harus dia? Saat aku melihat wajahnya yang mengerenyit karena cuaca yang panas, emosiku tiba-tiba hilang berganti menjadi sebuah kebahagian melihat wajah dari dekat.

DEG

Apa yang aku pikirkan??? Kok malah bahagia? Ah, sudahlah, lebih baik aku mencari tempat lain. Akhirnya aku meninggalkan dirinya dan mencari tempat parkir teduh lainnya.Untung saja aku bisa mendapatkan tempat teduh lainnya. Hari ini cukup cerah, semoga saja tidak hujan tiba-tiba. Setelah aku memarkirkan motorku dengan benar, aku menuju ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku untuk mengerjakan tugas UAS yang deadline nya tidak lama lagi.

Perpustakaan hari ini cukup ramai karena cuaca yang panas, dan sejuknya AC perpustakaan menggoda orang-orang untuk mencari tempat untuk mendinginkan tubuh. Aku pun sempat duduk diam selama 5 menit untuk mendinginkan tubuhka yang kepanasan. Huuuffff, memang serba salah, hujan ya salah, panas ya salah. Memang dasar manusia.

Saat aku ingin keluar dari perpustakaan, aku melihat ke luar pintu perpustakaan yang terbuat dari kaca. Terlihat si juniorku itu lewat depan perpustakaan. Hmm, aku merasa aneh, belakangan ini aku sering sekali bertemu, meilhat, atau berpas-pasan dengan dia. Walaupun sebenarnya aku tidak keberatan karena memang aku tidak ada masalah dengannya. Setelah aku mengambil tas yang aku titipkan di resepsionis, aku segera keluar dari perpustakaan dan menuju kelas.

Kali ini aku tidak sekelas dengan juniorku itu. Kelas saat itu berjalan selama 1 setengah jam, karena dosen yang mengajar di kelas itu ada urusan penting yang harus dia hadiri. Aku tidak menyangka kelas akan lebih cepat selesainya bingung harus kemana. Tidak ada keinginan untuk langsung pulang karena aku malas untuk pulang. Oh iya, aku harus ke bengkel mengambil mobilku yang sudah lima hari disana. Semoga saja semua sudah benar sehingga aku bisa memakai mobilku kembali.

-Alan Pov-

Huft, hari ini aku harus mengurusi pembayaran kuliahku. Karena sebentar lagi sudah UAS dan aku harus segera membayar, jika tidak maka aku tidak diizinkan untuk mengikuti perkuliahan. Setelah selesai dengan urusan pembayaran aku memtuskan untuk cabut dari kelas. Tidak ada sama sekali keinginan untuk masuk kelas hari ini. Entah mungkin karena cuaca yang panas, atau memang aku sedang malas. Akhirnya aku memtuskan untuk mengunjungi Tria yang sedang pulang ke rumahnya. Sudah lama tidak melihat ayah ibu Tria.

Aku sudah kenal Tria cukup lama, sejak itu aku sudah kenal sekali dengan ayah dan ibu Tria. Seaktu SMA aku sering main ke rumahnya dan sering sekali ngobrol dengan kedua orang tuanya. Untung besok sabtu, jadi aku bisa pulang malam hari ini. Rumah Tria lumayan jauh dari kampus, tetapi rumahku untungnya tidak terlalu jauh dari rumah Tria. Aku sampai ke rumahnya dan aku langsung menyalami ibunya yang sedang membersihkan halaman belakang. Rumah Tria cukup besar, dengan interior yang sederhana dan terkesan "jadul" membuat rumah Tria menjadi rumah yang cukup berseni. Saat aku bilang jadul adalah seperti rumah-rumah di tahun 70-an dengan furniture kayu dan sofa beludru, rak-rak buku kayu tua, pajangan hewan-hewan yang diawetkan.

Tria ternyata sedang berada di kantor ayahnya yang berada 3 rumah jauhnya dari rumah Tria, dengan berjalan kaki kulangkahkan kakiku dengan cepat karena aku tidak sabar untuk bertemu Tria. Saat aku sampai disana, ENG ING ENG!!! Ternyata si seniorku itu sedang ngobrol dengan ayahnya Tria. Ayah Tria adalah pemilik bengkel mobil. Bengkel mobil tersebut cukup terkenal karena bisa dikatakan pelayanannya yang terpercaya dan cepat.

Hal yang aku heran, mengapa belakangan ini aku bertemu dengan dia. Aneh, sungguh aneh. Huh, ya sudahlah, selama dia tidak menggangguku tidak apa-apa. Aku mendatangi Tria yang sedang duduk di meja respsionis. "Hai Tri, lagi apa?" sapaku.

"Lagi browsing aja. Baru sampe?" jawabnya malas.

"Iya, eh, makan yuk, laper nih!"

"Nggak ah, udah makan. Kalo mau makan sana."

"Ah Tria, males makan sendiri nih! Temenin!" sambil mencubit pelan tangan Tria.

Lalu entah dari mana seniorku sudah ada di sampingku. "Hai Tria, lagi apa?" tanya dirinya sambil tersenyum.

"Eh, kak Gevin. Udah selesai mobilnya?" jawab Tria yang dari lemas tiba-tiba tersenyum merekah.

"Belum Tri, masih harus nunggu sampe 2 jam lagi."

"Oh ya udah, gimana kalo kita makan dulu?" aja Tria sambil menarik tangan Gevin.

"Boleh-boleh, yuk! Eh iya, temennya Tria mau ikut nggak?" tanyanya pada diriku yang heran dengan sikap Tria yang tiba-tiba berubah.

"E...eh...hmm... boleh deh." jawabku ragu-ragu.

Huh! Dasar Tria, nggak bisa lihat cowo bening sedikit langsung aja capernya minta ampun! Akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk ikut makan dengan mereka. Aku merasa seperti nyamuk, saat makan siang aku hanya diam dan mendengar mereka ngobrol panjang lebar. Mereka seperti sudah kenal lama saja, sangat akrab mereka ngobrol. Hmm, bagus lah kalau Tria bahagia, sudah lama nggak lihat senyum Tria yang cantik. Sebenarnya mereka cukup cocok jika pacaran. Hihihi, lucu juga ya.

-Gevin Pov-

Astaga, ternyata dia lagi! Mengapa harus ketemu lagi deh? Emang nggak cukup ya ketemu sekali? Jangan-jangan dia ikutin aku kesini? hah, nggak mungkin. Dia kan nggak kenal aku. Ah ya sudah lah, lagi pula dia juga nggak ganggu aku.

Akhirnya aku tahu namanya dari Tria tadi saat makan siang. Tetapi anaknya ternyata pendiam banget. Hmm, Alan, entah mengapa aku jadi kepikiran dirinya terus. Karena aneh sekali, belakangan ini kami terus bertemu secara tidak sengaja. Dia lucu, mukanya yang polos dan seperti seorang kutu buku. Matanya penuh rasa penasaran, bagai sedang menebak-nebak sesuatu. Ah, aneh, entah mengapa aku ingin sekali untuk mengenal dirinya lebih jauh.

*keesokan harinya*

Huft, hari yang panas. Hari ini aku harus ke tempat katering karena mbok sedang pulang kampung. Untung tempat katering itu tidak jauh dari rumah, sekitar 100 meter. Aku jalan kaki ke tempat katering itu. Sebenarnya katering itu sebuah industri rumahan, memang terkenal usaha katering itu, banyak orang di komplekku yang menggunakan jasa itu untuk acara nikahan, khitanan, ataupun untuk katering sehari-hari. Karena aku kurang suka untuk membeli makanan instan atau makanan di luar akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan jasa tersebut.

Hmm, rumah tersebut hari ini terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Ku lihat ada tombol bel di salah satu tiang kayu yang menahan atap garasi rumah tersebut, ku tekan bel tersebut dan terdengar suara bel, "Assalamualaikum". Tidak lama, pintu depan rumah tersebut terbuka, sesosok pria yang nampaknya seumuran dengan ku keluar sambil meletakkan tangannya di atas matanya karena cuaca yang panas ini membuat matanya silau. Saat kuperhatikan lebih baik, ternyata pria tersebut adalah Alan! Jadi rumahnya disini? Jadi selama ini ibu katering langgananku memiliki anak yang satu kampus dengan ku? Bodohnya aku tidak tahu kalau ternyata selama ini aku dan Alan adalah tetangga. "Ada apa mas mencari siapa?" tanya Alan yang masih menutupi kedua matanya karena silau.

"Oh, iya saya mau mencari ibu Yani. Saya mau pesan katering." jawabku.

Lalu Alan tidak langsung menjawab, dia berusaha membuka matanya dan melihat ke arahku. Saat dia melihat ku, matanya terbelalak dan berkata, "Eh kak Gevin!"

"Eh Alan!" responku yang pura-pura tidak tahu kalau itu adalah Alan.

"Eh...iya...hmm....Ibunya lagi ke luar kota 3 hari sama ayah. Soalnya Ibu dapet kerjaan katering di luar kota" jawab Alan sambil tergugup-gugup. Entah mengapa dia gugup.

"Yaaahhh, padahal aku kan mau pesan katering." jawabku kecewa.

"Maaf ya kak Gevin." balas Alan.

"Hmm, ya udah kalau gitu sebagai gantinya kamu harus temenin aku cari makan!"

"Lho kok begitu?" tanya Alan dengan muka sedikit bingung.

"Iya karena aku baru tahu kalau ibumu keluar kota, nah makanya kamu harus temenin aku. Sekalian biar makin kenal, masa satu komplek, satu kampus, satu jurusan, dan satu kelas nggak kenal sama sekali sih?"

"Hmm, ya udah deh. Aku belum belum mandi, kak Gevin tunggu aku di dalem aja ya."

"Oke!"

Rumahnya yang sederhana sungguh rapi. Sepi sekali memang suasana di komplek kami. Hmm, wangi bawang goreng tercium sekali di rumah ini. Wajar lah ya, ibunya adalah tukang katering. Alan keluar mengambil handuknya, saat kembali ke dalam dia hanya menggunakan celana pendek alias telanjang dada. Tubuhnya lumayan bagus, terlihat otot-otot halus di tangannya. "Kak Gevin mau tunggu disini atau tunggu di atas?" tanya Alan.

"Di atas juga boleh." jawabku sambil senyum.

Saat aku duduk di sofa yang ada di atas, Alan datang sambil membawa segelas sirup berwarna merah dengan es batu. Hmmm, memang nikmat sih minum sirup siang panas begini. "Sebentar ya kak Gevin, aku mandi dulu." kata Alan sambil meninggalkan ku. Alan masuk ke kamar mandi yang hanya berjarak 2 meter dari tempatku duduk.

Saat aku sedang melihat layar handphoneku, tiba-tiba.......... (bersambung)

Saturday, October 13, 2012

Cinta di Parkiran Motor

-Alan Pov-

"Ah, mendung! Padahal baru cuci motor hari ini, kampus aneh, nggak punya parkiran basement!" gerutuku pada diriku sendiri yang mengeluh mengenai kelengkapan fasilitas kampusku yang aneh. Padahal kampus ini memiliki banyak mahasiswa yang menggunakan motor sebagai alat transportasi mereka. Tetap saja pihak kampus masih tidak memberikan parkiran basement dengan alasan yang banyak dan sulit untuk diterima alasannya. Aku yang baru saja sampai siang itu, langsung berjalan menuju ke tempat penitipan helm yang tidak jauh dari tempat aku parkir. Setelah kutitipkan helm dan jaketku, kupercepat langkahku menuju kelas karena setelah aku melirik jam tanganku, aku sudah terlambat 10 menit.

Masih dengan nafas yang terengah-engah, ku memasuki kelas dan ternyata belum ada dosen. Segera aku mencari tempat duduk, seperti biasa aku suka duduk dibagian tengah kelas. Karena tidak terlalu jauh dari papan tulis dan tidak terlalu menjadi pusat perhatian. Tidak seperti temanku Vivian, seorang jenius politik yang selalu bangku terdepan dan terdekat dengan dosen. Kuliahku yang sangat erat hubungannya dengan dunia politik terkadang membuatku kewalahan dalam mengikuti pelajaran yang diberikan. Tugas yang diberikan pun terkadang benar-benar tidak memakai hati nurani dengan deadline seminggu. Tetapi karena saat ini aku sudah berada di semester 5 maka tidak ada kata mundur untukku.

"Woi! Ngelamun aja!" sapa Tria yang baru saja datang dan ternyata lebih telat dari diriku.

"AH! Ngagetin aja sih!" balasku yang sedikit terkejut dengan suaranya yang lantang.

" Lagian ngelamun udah kayak orang mati, ga bergerak sama sekali. Eh, udah ngerjain tugasnya Pak Bram belum?" tanya Tria.

"Udah, baru selesai tadi malam dan rasa ngantuknya menyerang sekarang!" jawabku sambil mengusap-usap mata kiriku yang gatal.

"Duh gimana nih, gue udah ngerjain tapi entah kenapa gue lupa ngeprint itu tugas!" kata Tria sambil menepuk dahinya.

Huh, Tria, sahabatku yang satu ini sebenarnya cerdas, entah mengapa sifat pelupanya tidak pernah hilang. Nama panjangnya adalah Triana Sukmawati. Saking pelupanya, dia pernah tidak membawa tas ke kampus dan akhirnya dia harus kembali ke kosannya yang untung saja tidak jauh dari kampus. Walau pelupa, dia satu-satunya orang yang selalu ada disampingku saat senang maupun susah. Kami kenal dari pertama kali orientasi mahasiswa, kami sekelompok dalam pelaksanaan orientasi tersebut dan kami langsung berteman baik karena kebetulan kami memiliki hal yang sama-sama kami gemari yaitu film. Terkadang akhir minggu kami habiskan bersama untuk menyaksikan banyak film di kosan Tria.

Aku melihat ke arah jendela kelas yang berada di tengah ruangan kelas. Hujan turun dengan derasnya dan langit menjadi sangat gelap. Angin meniup pohon-pohon palem yang ditanam di lahan kampus. Entah kenapa hujan selalu membuat hatiku sedih dan menjadi syahdu. Aku teringat lagi akan motorku yang baru saja aku cuci dan membuatku semakin sedih. Perkuliahan berjalan selama dua setengah jam, saat namaku dipanggil untuk diabsen, ku angkat tanganku, saat aku menurunkan tanganku tidak sengaja sikutku menyenggol perut salah satu seniorku yang mengulang kelas yang sama denganku. "Eh, maaf" seruku. Nampaknya dia tidak mendengar kata maafku dan langsung menuju ke pintu untuk segera keluar dari ruangan ini. Tria yang sedang menunggu gilirannya untuk diabsen langsung senyum-senyum saat dia lewat depan Tria. Seniorku yang satu itu memang digemari banyak wanita-wanita di kelasku karena tubuhnya yang bisa dikatakan atletis, wajahnya yang memiliki karakter garang, attitudenya yang membuat wanita sempoyongan, tetapi sayangnya dalam politik tidak terlalu pintar, maka dari itu dia mengulang kelas yang sama denganku.

Aku pun segera menuju ke kantin untuk mencari cemilan karena ternyata kelas selama dua setengah jam cukup menguras tenagaku. Tria tidak ikut karena dia harus les bahasa Inggris yang letaknya tidak jauh dari kampus. Akhirnya aku duduk sendirian di satu meja di kantin yang letaknya jauh dari keramaian sambil menikmati cemilan dan minuman bersoda yang baru saja aku beli di kantin. Setelah cemilan habis, aku menyulut sebatang rokok. Ku hisap dalam-dalam rokok tersebut, kutarik asapnya sehingga mengisi seluruh rongga paru-paruku, dan ku hembuskan asapnya. Ya, aku seorang perokok, sejak SMA kelas 2 aku sudah mulai merokok. Hujan masih belum berhenti, akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan buku catatanku dan mencoret-coret buku tersebut dengan beberapa sketsa yang membentuk rumah. Ternyata hujan masih deras setelah sekitar setengah jam ku berkutat dengan bukuku. Huft, bagaimana aku bisa pulang?

-Gevin Pov-

Aaaaarrrrgghhhh, kelas hari ini sungguh membosankan seperti biasa! Benar-benar aku tidak berbakat dalam politik. Seharusnya aku memilih untuk masuk ke sebuah sekolah musik karena aku ingin sekali menjadi seorang komposer musik yang hebat. Membuat musik untuk menginspirasi banyak orang di dunia. Tetapi malah terjebak disini, dunia politik yang diciptakan oleh seseorang dan untuk suatu hal yang mereka inginkan. Rasanya aku sudah bosan untuk kuliah, ingin cepat-cepat menjadi seorang komposer. Tetapi apa daya, aku sudah terjebak disini.

Setelah kelas membosankan itu, aku memutuskan untuk pulang, tetapi hujan menghentikanku untuk menjalankan niat tersebut. Lagi-lagi hujan deras, padahal kemarin baru saja ganti celana jeans, eh hujan lagi. Kasihan si mbok kalau disuruh cuci jeans-jeans aku yang berat. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan menuju ke kantin, aku menuju sebuah kantin yang menjual kebab, karena kelas membosankan itu membuat perutku lapar. Kebab bisa menyembuhkan kebosananku, ku pesan satu kebab ukuran besar dan sebotol minuman teh kemasan.

Tidak lama, kebab pesananku datang dan langsung saja ku melahap habis kebab tersebut. Sungguh kenyang perut ini, membuat mataku lelah dan ingin sekali aku tidur. Kantuk ini sungguh membuatku menjatuhkan kepala ke atas meja kantin. Secara perlahan ku tertidur di atas meja kantin, tanpa memperdulikan sekitar aku menikmati tidur siang kilatku.

JEGEEERRRRR

Suara petir membangunkanku dan tiba-tiba jantungku berdetak kencang karena bangun secara tiba-tiba. Ku melihat sekitar kantin yang tadinya ramai semakin sepi. Aku melihat ada satu orang yang masih duduk di ujung sana, berkutat dengan bukunya dan mukanya yang penuh dengan kejenuhan. Hmm, mungkin dia jenuh karena menunggu hujan. Saat aku memicingkan mata, ternyata orang tersebut adalah juniorku. Ah, aku lupa namanya, ingin ku sapa tapi aku tidak enak, tidak terlalu kenal. Biarkan sajalah, sepertinya dia sedang asik mengerjakan tugas.

Ugh, hujan masih saja deras. Aku memutuskan untuk memesan teh hangat manis untuk mengahangatkan tubuhku yang tiba-tiba menggigil kedinginan. Aku berjalan ke salah satu kios untuk memesan teh hangat, kebetulan kios tersebut dekat dengan meja yang sedang ditempati juniorku itu. Hmm, apa aku harus menyapanya?

Setelah aku selesai memesan dan membayar teh, aku berniat untuk mendatangi mejanya dan menyapanya. Sayang sekali dia sudah tidak ada di meja itu. Hmm, lagi-lagi aku sendirian menunggu hujan ini. Ya, setelah teman-teman seangkatanku banyak yang sudah lulus ataupun sedang mengerjakan skripsi aku menjadi satu-satunya orang di angkatanku yang masih suka berkeliaran di kampus. Ada perasaan sedih saat aku tahu hanya aku yang belum memulai skripsiku. Tapi ya sudahlah, kalau hanya sedih tidak akan selesai.

Teh yang ku pesan sudah datang, ke coba menyeruput teh itu. Hmm, manisnya pas, aku suka teh manis dengan tingkat kemanisan seperti ini. Manis dan tidak membuat tenggorokan gatal karena gula yang berlebihan. Teh ku sudah habis setengah gelas dan hujan pun berhenti. Ku tinggalkan kantin dan bergegas ku menuju parkiran tempat motorku berada karena aku ingin sekali sampai di rumah dan tidur.

-Alan Pov-

Setelah akhirnya aku bosan berkutat dengan buku catatanku, ku tutup buku itu dan ku masukkan buku ku ke tas. Saat aku mengangkat kepalaku, aku melihat ada seorang pria yang tampaknya tidak asing, dia menuju ke sebuah kios yang tidak jauh dari mejaku. Oh, ternyata senior ku yang menjadi pujaan hati para wanita itu. Hmm, biasanya dia langsung pulang. Apakah dia menunggu hujan juga? Kan biasanya dia bawa mobil. Ah sudahlah, aku nekat saja pulang, aku sudah bosan menunggu hujan yang tak kunjung berhenti ini!!!

Ku arahkan diriku ke parkiran motor, ternyata hujannya masih terlalu deras. Akhirnya aku hanya bisa berdiri diam di dekat lapangan parkir motor sembari menunggu hujan reda. Tak lama hujan reda, tanpa ragu aku menuju tempat penitipan helm, ku tukarkan kartu bernomor 12 yang menandakan nomor loker helm ku. Setelah aku membayar, ke keluarkan kunci motorku dari saku celana kiriku dan ku masukkan kunci motor ke lubang kuncinya. Saat aku hendak mengeluarkan motor dari parkiran, secara tiba-tiba ada motor lain berasal dari arah berlawanan dan ban motor kami saling beradu. Untung saja tidak parah atau pun fatal, hanya beradu dan membuat motor kami berhenti.

OH GOSH!!! Ternyata itu adalah motor seniorku, DAMN! Kenapa sih harus dia lagi, tadi di kelas nggak sengaja aku sikut, sekarang ban motor kita beradu. Dengan muka yang sedikit jutek aku memarahi seniorku itu, "Lihat dong petunjuk arahnya! Nggak bisa liat arah panahnya kemana?"

"Namanya juga buru-buru, lagi pula petunjuk arahnya juga ketutup genangan air!" jawabnya ketus.

Ternyata benar, genangan air menutupi petunjuk arah yang berada di bawah kami. Akhirnya tanpa berkata lebih banyak lagi aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Begitupun seniorku itu. Benar-benar deh hari ini membosankan dan aneh.

-Gevin Pov-

Pffttt, benar-benar bosan tingkat kecamatan deh! (lebay) Mana itu anak ngeselin lagi, kan namanya juga nggak sengaja. Tapi, lucu mukanya kalau lagi cemberut tadi, kayak anak kecil minta susu. Eh, kenapa jadi mikirin mukanya sih? Aneh ah! Saat aku sampai rumah, hujan pun lanjut turun dengan derasnya tanpa ragu. Hanya ada satu hal yang kusukai kalau sedang hujan seperti ini yaitu TIDUR! Melanjutkan tidurku yang terputus karena petir itu.

TANG TANG, TENG TENG, TENG TENG

Suara handphone ku, ternyata ada telepon. Saat ku lihat layar handphone ku ternyata telepon dari mas Rudi, salah satu dosen muda yang sering nongkrong bareng bersamaku dan teman-teman seangkatanku dulu. "Halo?" sambil membenarkan posisiku menjadi duduk.

"Halo? Gev, dimana?" jawab mas Rudi.

"Di rumah mas kenapa?"

"Yah, baru mau gue ajak main futsal sama anak-anak!"

"Duh, males gue mas. Soalnya mobil gue lagi di bengkel, kalau naik motor juga males, hujan deras di rumah gue."

"Oh ya sudah, next time lah ya."

"Oke deh mas, have fun ya mas! Salam buat anak-anak yang lain."

"Pastinya!"

Ku tutup perbincangan singkat itu dan kembali posisi ku terlentang di atas tempat tidur. Ku lihat jam di handphone dan waktu menunjukkan pukul 19:30. Ternyata lama juga aku tertidur, perutku berbunyi tanda lapar belum diisi. Aku berjalan menuju ruang makan, aku melihat mbok sedang menyiapkan makan malam. Lagi-lagi sendiri, mama dan papaku sudah tiada. Mereka meninggal 3 tahun lalu dikarenakan kecelakaan saat mereka sedang ingin pergi ke Bali dalam rangka merayakan anniversary mereka yang ke 25. Meninggalkan aku dan kakakku, seorang wanita karir sukses dan saat ini dia sedang berada di London, Inggris. Dia disana sebagai seorang public relation yang pawai dalam bidangnya. Saat ini aku hidup dari warisan kedua orang tuaku, kakakku setuju kalau semua warisan mama papa menjadi milikku sendiri. Terkadang aku merasakan sebuah kesepian yang amat sangat. Aku melahap makananku dalam waktu 10 menit, melihat senyum mbok karena makanannya dihabiskan membuatku juga merasa senang. Mbok ku yang bernama mbok Imah, tidak bisa bicara. Dia mengalami sebuah penyakit aneh yang menyebabkan lidahnya lumpuh.

Aku menuju ke halaman depan untuk menggembok pintu depan. Saat aku akan memasukkan gembok ke lubang yang ada di pagar, aku di kejutkan oleh kehadiran seseorang. Orang tersebut tidak asing, dia jalan di depan rumahku, melambai ke arahku dan senyum. Juniorku! (to be continued)

Thursday, October 4, 2012

Bali

Yori masih terkejut pada saat melihat Jeremy terlentang di tempat tidur dengan telanjang bulat dan memperlihatkan seluruh tubuhnya yang membuat Yori lemas tak berdaya. Tubuhnya yang putih tanpa bulu, puting merah yang menggoda, dengan perut yang sedikit buncit, sungguh membuat Yori tak berdaya dan bingung. Lalu dengan polosnya Yori bertanya, "Kamu lagi apa? Kok telanjang begitu? Nanti masuk angin lho!".

Lalu Jeremy tertawa seketika dan menjawab, "Kamu ada-ada aja sih, emang ga boleh aku telanjang di depan pasangan aku sendiri?"

"Ya ngga apa-apa sih sebenernya, tapi emang kamu ga malu?"

"Malu sama siapa? Sama kamu? Ya ngga lah. Tapi kamu ga apa-apa kan aku telanjang?"

"Hmmm, sebenernya sih aku agak kaget. Aku bingung aja tiba-tiba kamu telanjang gitu."

"Ya udah, aku pake lagi deh boxer aku"

Saat Jeremy sedang menaikan boxernya, tiba-tiba Yori yang telanjang dada memeluknya dari belakang. Yori bisa merasakan hangatnya punggung Jeremy, lalu Yori mengecup tengkuk Jeremy, aroma tubuh Jeremy yang khas membuat Yori terbang keawang-awang. Lalu masih dalam keadaan dipeluk, Jeremy membalik badannya dan melihat mata Yori lalu mencium bibir Yori dengan lembut, rasa mentol terasa dari mulut Yori yang baru saja sikat gigi, lalu bibir Jeremy turun ke leher Yori, nafas Jeremy meresap ke dalam kulit Yori. Tiba-tiba Yori mendorong tubuh Jeremy, "Aku belum siap, aku tahu sudah satu tahun, tapi aku belum siap. Maaf ya sayang."

"Ngga apa-apa kok, aku juga ga maksa kamu. Aku bisa cium dan peluk kamu lumayan mengurangi rasa ingin aku untuk berhubungan seks." jawab Jeremy santai.

Tiga hari itu mereka menikmati waktu bersama mereka di Bali, lalu malam terakhir mereka di Bali, suatu hal yang membuat mereka semakin terikat dengan satu sama lain terjadi. Mereka akhirnya berhubungan seks, saling bercumbu, bercengkrama, menikmati saat-saat mereka berdua. Yang diperlukan Yori hanyalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan hasratnya untuk bercinta dengan Jeremy, Jeremy juga pintar dalam memilih waktu yang tepat bagi mereka untuk melakukannya.

Malam terakhir mereka di Bali mereka habiskan untuk berjalan-jalan santai di pantai Kuta sambil membicarakan segala hal. Pada saat mereka sedang duduk dan Jeremy sedang menikmati rokoknya (Jeremy mulai merokok sebulan lalu), tiba-tiba Jeremy dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki berbaju motif pantai berwarna merah dengan celana pendek, seumuran dengan Jeremy, rambutnya hitam legam, botak, sedang berjalan-jalan di pantai sendiri. Pria tersebut adalah mantan Jeremy yang sudah putus 6 bulan sebelum Jeremy berhubungan dengan Yori. Jeremy pada awalnya tidak ingin menyapa karena dia takut Yori merasa tidak nyaman dengan kehadiran mantannya, tetapi ternyata pria tersebut melihat Jeremy dan menyapa Jeremy, "Hai Jer, apa kabar? Wah, ga nyangka ya kita ketemu disini!". Jeremy menjawab dengan sedikit panik, "Eh, iya, apa kabar Joe?".

"Baik, lagi liburan Jer? Sama siapa?"

"Iya lagi liburan sama pasangan."

"Oooh, sama pasangannya?"

"Iya, ini kenalin pasangan gue, namanya Yori."

Yori bangun dan menyalami tangan Joe, "Halo, nama gue Yori."

"Halo, gue Joe." sambil tersenyum.

"Temennya Jeremy ya?" tanya Yori.

Dengan sedikit tergagap Joe menjawab, "Eh...hm.... bisa dibilang gitu sih."

Jeremy menyambung jawaban Joe, "Maksudnya dia sekarang kita temenan. Dia mantan aku Yor."

Sambil menahan ekspresi terkejutnya Yori menjawab, "Ooo, mantan."

Keadaan hening sekitar 5 detik. Keadaan itu adalah 5 detik terlama yang pernah Jeremy alami dan benar-benar membuat dirinya seperti dihempas ombak. Jeremy yang khawatir akan reaksi Yori langsung berkata, "Oh iya, udah malem dan besok kita mau pulang ke Jakarta. Jadi kita balik dulu ya Joe."

"Oh iya, ngga apa-apa. Good luck ya!" jawab Joe ramah.

Sepertinya Joe memang tidak ingin membuat keadaan semakin tidak nyaman dan Joe melakukan langkah yang pintar. Tanpa banyak basa basi lagi dia menjauh dari Jeremy dan Yori agar tidak terjadi salah paham. Jeremy sedikit tenang dengan sikap Joe yang tidak seperti dulu lagi. Manja berlebihan, berapi-api jika berbicara dengan orang baik yang sudah kenal maupun yang baru kenal, dan rasa ingin tahu yang besar akan urusan orang lain nampaknya sudah berkurang. Akhirnya Jeremy dan Yori sampai di hotel dan sepanjang perjalanan ke hotel mereka tidak bicara sama sekali.

Keheningan tersebut terpecah saat Jeremy bertanya, "Kamu udah packing belum sayang?". "Sudah kok, tinggal masukkin baju kotor besok pagi aja." jawab Yori santai.

"Kamu ga marah sama aku kan?"

"Hah? Marah kenapa ya Jer?"

"Soalnya tadi habis ketemu Joe, kamu langsung diem, ga ngomong apa-apa"

"Aku kira kamu lagi kesel atau gimana. Soalnya kamu juga ga ngajak aku ngobrol makanya aku diem."

"Aku ga kesel, aku cuma khawatir sama perasaan kamu. Kan biasanya kalo pasangan kita ketemu mantan kita keadaan bisa memburuk."

"Oh kalo masalah Joe aku sih ga apa-apa. Dia orangnya kayaknya baik."

"Iya, dia baik kok. Hehehe." Jeremy yang tidak ingin menjelek-jelekkan Joe di depan Yori langsung mengajak Yori untuk tidur. Jeremy tahu bahwa Joe bukanlah orang baik, Joe adalah orang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan rela menduakan Jeremy demi mendapatkan seorang pengusaha kaya raya yang sudah mempunyai istri. Jeremy sudah tidak ada rasa sayang lagi ke Joe, hanya kasihan.

Monday, October 1, 2012

Bertemunya Mereka

Hari ini Yori datang ke kampus sangat terburu-buru karena dia terlambat masuk kelas. Untung saja dosennya kali ini sangat toleran. Dia duduk di kursi yang berada di bagian tengah. Dia membuka jaketnya dan mengelap peluhnya yang meluncur turun di dahinya menggunakan sapu tangan putih yang ia selalu bawa setiap hari. Lalu tiba-tiba saja pintu kelas terbuka dan dia melihat seseorang yang menurutnya asing. Orang tersebut bermuka manis, bibir merah merekah dan mata coklat muda yang membuat hati Yori berdebar cepat. Pria itu memakai kemeja biru malam, dengan lengan dilipat dan jam tangan silver yang melilit ditangan kirinya. Ya, Yori seorang gay. Dia menyukai sesama jenis semenjak umur 16 tahun. Sudah 4 tahun lebih dia mempunya hasrat penyuka sesama jenis.
Lalu pria itu duduk disebelah Yori, aroma tubuhnya seperti kayu pinus. Berkesan misterius dan membuat Yori semakin penasaran. Kelas berlangsung selama 2 jam siang itu. Pada saat Yori keluar dari kelas, dia merasakan tangannya seperti ditarik oleh seseorang. Ternyata yang menarik tangan tersebut adalah pria asing tadi yang duduk disebelahnya. "Hai, gua Jeremy." Sapanya ramah. "Hmm, lo Yori kan? Apa kabar?" Lalu Yori menjawab dengan sedikit gugup dan malu, "Iya, gua Yori. Kok lo tau nama gua?" "Iya, gua tau nama lo soalnya gua cek di daftar kelompok mata kuliah Manajemen kita sekelompok." Jawabnya.
Sembari mereka berjalan ke arah kantin, mereka berdua saling berbicara seakan sudah mengenal satu sama lain. Mereka menaruh tas mereka di meja. Letak meja yang mereka tempati berada di bagian terjauh dari kios-kios kantin kampus mereka. Di meja tersebut ada 3 kursi besi dan 1 meja besi yang terkena percikan air karena hujan baru saja berhenti. "Yor, gua mau pesen makanan dulu ya! Lo mau makan apa?" sembari beranjak dari kursi. Lalu Yori menjawab sambil memberikan uang dua puluh ribuan ke Jeremy, "Gua mau bubur ayam aja, jangan pedes ya." Lalu Jeremy segera menuju ke arah kios bubur ayam yang berada di ujung jauh dari meja mereka. Pada saat menunggu Jeremy, Yori membaca novel percintaan kesukaannya dan mendengarkan musik dari headsetnya. Beberapa menit kemudian Jeremy datang dengan membawa satu nampan yang berisikan dua mangkuk bubur ayam dan dua gelas teh manis hangat juga tidak lupa uang kembalian.
Saat mereka mulai menyantap bubur ayam masing-masing, tiba-tiba gerimis mengguyur. Untung saja meja yang mereka tempati menggunakan payung. Sepanjang mereka menyantap bubur ayam, tidak ada yang saling berbicara. Yori terlalu gugup untuk berbicara kepada Jeremy, sedangkan Jeremy yang seorang gym freak mempunyai nafsu makan yang besar sehingga dia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya sebelum ia selesai makan. Beberapa saat kemudian, Jeremy sudah menghabiskan buburnya dan meneguk teh hangatya hingga tersisa setengah gelas. "Gimana semester 3 ini? Susah? Atau mungkin lebih enjoy?" tanya Jeremy. "Hmmm, gimana ya? Kayaknya lebih enjoy deh, soalnya mata kuliahnya walaupun susah tapi udah terbiasa, jadi sedikit lebih ringan." Jawab Yori.
"Good! Gua sebenernya udah semester 5, tapi gua masih harus ulang beberapa mata kuliah yang ada di semester 3. Makanya ketemu lo deh, dan kebetulan kita sekelompok untuk presentasi UTS nanti." Balas Jeremy
Lalu Yori tersenyum, "Oh, ternyata lo senior ya? Pantes aja gua agak asing ngeliat lo. Hehee, wajar gua agak ansos. Abis kuliah gua langsung pulang biasanya."
"Oh, ga apa-apa kok, santai aja. Gua juga agak ansos kok, bukannya males sama orangnya tapi gua males aja gitu nongkrong mulu, udah keseringan nongkrong soalnya."
"Kalo ke kampus naik apa?" tanya Yori.
Sambil menyeka bibirnya yang merah dengan tisu, "Naik mobil, kenapa?"
Dengan muka yang sedikit terkejut, "Oh, ga apa-apa. Cuma tanya aja kok."
"Ooo, lo naik apa?" tanya Jeremy singkat
"Gua naik kendaraan umum. Rumah lo dimana Jer?"
"Rumah gua di daerah Pondok Indah, lo?"
"Bintaro, wah ga jauh ya?"
"Iya, hari ini lo naik apa?"
"Naik kendaraan umum, soalnya ujan."
"Ya udah, nanti pulang bareng gua aja. Lo udah ga ada kuliah kan untuk hari ini?"
"Hmm, udah ga ada kuliah sih. Tapi ngga usah deh, ngerepotin."
"Ya elah, santai aja lagi sama gua. Oke? I insist!"
"Well, okay! Makasih yaa." Jawab Yori sambil tersenyum.
Lalu mereka bersenggama selama sejam menunggu gerimis berhenti, tetapi sepertinya awan tidak menujukkan tanda gerimis akan berhenti. Mereka berdua berlarilari kecil menuju ke tempat parkiran yang berada tidak jauh dari kantin dan memasuki mobil. Dalam perjalanan mereka membicarakan seputar mata kuliah yang mereka ambil sambil mendengarkan lagu yang dilantunkan oleh Michael Buble. Ternyata siang itu jalanan cukup padat karena hujan. Bau aspal basah tercium pada saat Yori membuka jendela untuk membetulkan posisi spion sebelah kiri. Pada akhirnya mereka sampai di depan rumah Yori, "Makasih ya Jer udah dianterin sampe rumah."
"Sama-sama, besok kalo lo berangkat naik kendaraan umum lagi, telepon gua aja. Biar gua jemput, kan besok kita kelasnya sama lagi kan?" tanya Jeremy.
Dengan sedikit mengeluarkan senyum kecut, "Hmmm, waduh jadi ngerepotin. Ga usah deh, kan repot kali harus jemput gua."
"Ya elah, santai aja. Oke?" balas Jeremy.
"Ya udah deh. Oh iya, nomer lo berapa?" sambil mengeluarkan handphone nya. Setelah bertukaran nomor, Yori keluar dan Jeremy melambaikan tangan dari dalam mobil dan meninggalkan Yori yang masih berdiri lemas karena dia baru saja diantar pulang oleh orang yang ia sukai. Malam harinya Yori membaringkan tubuhnya ke kasur kesayangannya sambil memikirkan Jeremy. Betapa ia mengagumi kebaikan Jeremy mengatarkannya ke rumah padahal mereka baru saja kenal. Ia membayangkan tangan Jeremy yang kekar menggenggam tangannya, dan wangi tubuhnya yang menurutnya misterius membuatnya semakin bergejolak di dalam hati. Selama empat tahun dia mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya, baru pertama kali ia merasa bahwa ia benar-benar menyukai seseorang. Membuatnya ingin berbuat apa saja demi Jeremy.
Keesokkan paginya setelah Yori mandi, tiba-tiba handphone nya berdering. Ternyata dari Jeremy, "Hai Yor, udah siap?"
Dengan wajah yang kebingungan, "Udah siap apaan?"
"Berangkat lah! Gua udah on the way ke rumah lo" sambut Jeremy di ujung telepon.
"Oh, ngapain?"
"Menurut lo? Ya jemput lo lah!"
"Ooohh, iya! Gua lagi pake baju kok, nanti kalo udah sampe SMS gua aja."
"Oke, buruan yaa!"
"Sip! See you!"
"Bye"
Setelah Yori menaruh handphone nya di atas meja, dia segera berpakaian dan menjemur handuknya di jemuran. Beberapa menit kemudian Yori menerima SMS dari Jeremy dan segera berpamitan kepada ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman depan. Yori tinggal berdua bersama ibunya, ayah Yori sudah tiada 3 tahun yang lalu karena terkena penyakit kanker otak sedangkan kakaknya berada di New York bekerja di kedutaan besar Indonesia. Yori membuka pintu pagar dan menuju ke arah mobil Jeremy.
"Hai, itu nyokap?"
"Iya, kenapa?"
"Gak apa-apa, nyokap sendiri di rumah?"
"Iya." Dengan raut muka yang tiba-tiba berubah kelam.
"Kenapa? Kok tiba-tiba kayak sedih gitu? Emangnya ga ada orang di rumah?" tanya Jeremy.
"Ga ada, kakak lagi di luar negri, kerja. Bokap udah ga ada."
"Ooo, maaf ya. Gua jadi lancang sama lo."
"Ga apa-apa kok." Sambil tersenyum kecut.
Lalu Jeremy segera memacu mobilnya ke arah kampus. Pagi itu cukup cerah, dan jalanan di Jakarta seperti biasa macet. Sekitar 30 menit mereka tempuh untuk sampai di kampus. Sesampainya di kampus, mereka segera menuju kelas. Untung saja mereka tidak telat. Hari ini mereka hanya ada satu kelas saja dan kelas mereka hari ini hanya berdurasi satu jam. Satu jam kemudian mereka keluar kelas dan Jeremy bertanya kepada Yori, "Cewe lo anak kampus ini?"
"Hah? Cewe? Belum punya cewe gua." Jawabnya santai.
Dengan sedikit tersenyum, "Masa sih?"
"Serius kok, masa iya kali gua bohong"
"Oh ga apa-apa sih, biasanya kan tipe cowo kayak lo pasti punya cewe selalu"
"Maksudnya selalu?"
"Iya, ada aja cewe yang mau sama lo."
"Yang mau sih banyak Jer, tapi yang gua mau belum ada."
"Tapi lo udah pernah pacaran?"
"Udah, dua kali. Lo?"
"Belum pernah..."
"Kenapa? Kok bisa, kan lo kayak termasuk tipe idaman cewe. Baik, kalem, muka juga lumayan, putih pula!"
"Mungkin belum jodoh aja Jer." Balasnya dengan muka bingung.
"Kenapa? Kok kayaknya ada sesuatu yang disembunyiin"
"Ga apa-apa kok. Maksudnya disembunyiin apa?"
"Iya, kayaknya ada sesuatu yang lo belum kasih tau gua."
"Ga ada ah, ga ada yang penting kok."
"Yakin?"
"Iya, kenapa sih lo? Kok aneh?"
"Biasa aja, lo aja yang aneh. Ditanya gitu aja panik, ketahuan deh!"
"Ga panik kok.... ketahuan... apa sih...?" jawabnya terbata-bata.
Lalu Jeremy meninggalkan Yori yang sedang kebingungan dengan semua pertanyaan tadi. Jeremy menuju ke mobilnya dan Yori menyusul dari belakang. "Jer, maksud lo apa?" Tiba-tiba sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Yori terjadi, Jeremy mencium bibir Yori sambil memeluknya erat hingga tubuh mereka beradu. Selama sekitar sepuluh detik mereka berciuman akhirnya Jeremy melepaskan kecupannya dari bibir Yori dan menatap mata Yori sangat dalam dengan muka yang serius. Pada saat itu yori tidak bisa berkata apa-apa dan yang ia bisa lakukan hanyalah diam dan menatap Jeremy. Setelah mereka saling menatap Yori menampar Jeremy tepat di pipi kirinya. Tak lama Yori mencium bibir Jeremy kembali. Ternyata mereka berdua selama ini saling menyukai satu sama lain. 
"Jer, maaf gua tampar lo. Jujur gua syok."
"Ga apa-apa, aku ngerti kok. Lo pasti kaget kan gue cium lo tiba-tiba?"
"Ga juga, karena gue berharap lo suka sama gue, karena gue udah lama suka sama lo."
"Gue suka sama lo semenjak gue duduk disamping lo."
"Gue suka sama lo sejak pertama kali ngeliat lo."

Mereka terdiam selama beberapa menit memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba saja Yori pingsan karena dia belum sempat sarapan sebelum berangkat ke kampus. Lalu dia mengalami sesuatu yang membuatnya syok sehingga membuat otaknya sangat terbebani. Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu kelanjutannya di cerita selanjutnya yang berjudul "Pasangan Baru" Cheers!

Pasangan Baru

Jeremy dan Yori memutuskan untuk membangun sebuah hubungan setelah mereka tahu bahwa mereka saling menyukai satu sama lain. Yori merasa menjadi orang yang paling beruntung karena dia mendapatkan Jeremy sebagai pasangannya. Jeremy pun merasakan hal yang sama, dari saat Jeremy melihat Yori, Jeremy tahu kalau dia sedang jatuh cinta. Mereka sudah bersama selama 1 tahun hingga saat ini. 6 bulan lalu ibu Yori meninggal dalam keadaan tidur. 6 bulan belakangan adalah waktu-waktu terberat Yori karena dia sudah tidak memiliki orang tua lagi. Kakaknya yang di New York pun saat ini sudah kembali karena banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Yori sungguh beruntung memiliki Jeremy yang selalu ada disampingnya.

Untungnya harta warisan kedua orang tua Yori lumayan banyak sehingga bisa membiayai kuliah Yori yang sudah berada di semester 7 dan sebentar lagi Yori akan membuat skripsi. Jeremy yang satu tahun lebih tua sudah lulus dan sekarang bekerja di perusahaan keluarganya. Jeremy memutuskan untuk tinggal bersama Yori karena dia tidak mau orang yang dia sayang merasa kesepian. Tetapi Yori menolak, Yori menolak karena kakaknya masih tidak tahu mengenai Yori yang ternyata adalah gay. Yori takut kakaknya tahu dan tidak bisa menerima keadaan Yori yang gay.

Jeremy dengan berat hati untuk menerima keputusan Yori yang ingin tinggal sendiri. Tetapi Jeremy yang terlalu sayang ke Yori memutuskan untuk pindah rumah yang lebih dekat dengan Yori. Akhirnya Jeremy mendapatkan rumah yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah Yori. Seperti biasa, hari itu hari senin, Jeremy berangkat ke kantor dan sebelum berangkat dia menelepon Yori. Telepon Yori berdering, "Halo." jawab Yori.

"Selamat pagi sayang, kamu udah bangun?" sapa Jeremy

"Baru aja, kamu kok belum berangkat?"

"Iya, ini mau berangkat. Kamu mau bareng ga? Ada kuliah ga hari ini?"

"Aku ga ada kuliah hari ini, lagi pula kamu kan udah telat. Buruan berangkat!"

"Iya iya, ya udah tidur lagi sana!"

"Okay, bye sayang!"

"Bye"

Lalu Jeremy memacu mobilnya ke kantor. Yori yang terbangun karena telepon Jeremy memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya. Dia duduk sebentar di pinggir tempat tidurnya dan memandangi foto ibunya yang sedang memegang tangan Yori pada saat dia masih kecil. Yori rindu ibunya yang selalu sayang kepada dirinya dan menjadi single mom yang selalu membuat Yori bangga. Hari ini rencana Yori mengerjakan bab satu skripsinya tetapi dia merasa tidak ada inspirasi dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa.

Hari semakin siang, siang berganti sore, dan datanglah malam. Yori yang seharian menonton DVD dikejutkan oleh dering handphone nya. Saat dia menghampiri handphone nya yang ada di kamar, dia melihat dilayar tertulis "My Prince". Segera dia menjawab telepon itu, "Hai sayang, ada apa?"

"Sayang, kamu 3 hari kedepan ada acara ga?" tanya Jeremy.

"Ngga ada, kenapa emangnya?"

"Aku mau ke Bali sama kamu, berdua. Malam ini..."

"HAH? Kamu aneh ah! Kamu dimana?"

"Aku udah di jalan pulang, mau packing terus berangkat. Kamu siap-siap ya."

"Kamu serius? Kok tiba-tiba sih?"

"Iya, aku bosen. Ya? Pokoknya aku dateng udah siap ya?!"

"Hmm, ya udah. Aku packing dulu."

"Okay, see you babe!"

Lalu Jeremy menutup teleponnya dan Yori bersiap-siap dalam sekejap. Satu jam kemudian, Jeremy sudah berada di depan rumah Yori. Yori segera memasukkan koper-kopernya kebagasi mobil dan segera memacu mobilnya ke bandara. Setelah mereka melalui penerbangan selama 2 jam, akhirnya mereka sampai. Jam menunjukkan waktu 1 pagi waktu lokal. Mereka segera menuju ke penginapan yang sudah disiapkan oleh Jeremy. Dengan mobil dari penginapan yang mereka singgahi, mereka menuju ke penginapan. Jeremy tertidur di mobil karena dia sangat lelah.

Suara deburan ombak terdengar sayup-sayup, kicauan burung bersahutan, semilir angin pantai yang membawa masuk hawa pasir, sinar matahari yang masuk melalui jendela dan mengenai muka Jeremy yang sedang tertidur pulas membangunkan Jeremy. Dia tidak ingat bagaimana dia bisa sudah ada di atas tempat tidur. Saat dia melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Dia melihat handphone nya yang ada di samping tempat tidur, ada SMS dari Yori yang berisi, "Sayang, aku lagi berenang, see you later. Love you!". Jeremy berjalan menuju ke pintu yang tersambung dengan teras dengan pemandangan pantai yang indah. Lalu Jeremy melahap makanan yang sudah tersedia di meja teras. Saat dia sedang menyeruput kopi paginya, tiba-tiba kecupan dari Yori menyambut pipinya. "Hai sayang, selamat pagi!" sambut Yori dengan wajah segarnya. Lalu Jeremy menjawab, "Selamat Pagi sayang. Seger banget yang habis berenang?"

"Iya dong, emang kamu, tidur mulu! Hehehe."

"Aku capek banget sayang, aku aja ga tau gimana semalem kok tiba-tiba aku udah di tempat tidur. Hal terakhir yang aku inget aku masuk mobil dan tidur."

"Iya, aku sama bellboy berdua gotongan angkat kamu. Huft, kamu tuh berat tau!"

"Hahaha, maaf ya sayang, jadi ngerepotin."

"Gak apa-apa. Hari ini kamu mau kemana?"

"Hmm, rencananya sih aku mau di hotel aja, berduaan sama kamu."

"Boleh, terus kita ngapain?"

"Ya nonton kek, ngobrol, ngapain aja terserah kamu!"

"Okay, ya udah aku mau mandi dulu ya. Kamu sarapan dulu sana."

"Oke!"

Yori berlalu setelah mengecup bibir Jeremy.

Setengah jam kemudian Yori selesai, pada saat Yori melihat Jeremy, ternyata Jeremy berbaring di tempat tidur telanjang dan menaruh tangannya di kepala bagian belakangnya dengan tatapan menggoda. Yori terkejut karena dia belum siap untuk hal ini. Ya, setelah 1 tahun bersama, mereka belum pernah melakukan hubungan sex, bahkan melihat tubuh satu sama lain telanjang pun belum pernah........ (to be continued)

Friday, August 31, 2012

Private Romeo and The War Boys

So, recently I watched several gay movies that I got from you tube and the pirate bay. From those movies only two caught my attention which is "Private Romeo" and "The War Boys". Why? I will tell you one by one...

First is, Private Romeo:
This movie is about a grup of millitary student in McKinley Millitary University that stay in campus while the rest of the school is going on 4 days of day off. In this movie, the dialogue is not like a usual movies we saw. It was using an old english i think because it was from the most famous novel 'Romeo and Julliet'. As Indonesian who had limited capabillity in understanding those old english language, i don't really understand what the movie told. But thanks to those actors with an extrodinary acting skill, I can feel what they want us to feel. Which is about brotherhood, love, passion, and understanding. It's just beautiful when this one scene that they were slept together and waking up in  shocked because the sun is already high and the "romeo" had to go before anyone catch him. Before romeo go and jumped from window, he kissed juliet (which is a guy too) and how they did it is just pure love and so beautiful. Ugh, totally breaks my heart! My rating for this movies is 8 out of 10!

Second, the war boys:
actually this movie is lighter that the first movie. But when it comes to storyline and the filmography, trust me on this, BEAUTIFUL!!!! The cast, they acting skill, lighting, etc was just soooooo perfect! It's about three boys that had very different background, hanging out together, doing some fratboy stupidness, and having fun so much. David, George, and Greg. Greg was a latino that born from the other side of the border so that's why he hanging out with david and george. David and George was a bestfriend since they were little. Since that, there's no secret and awkward moment for them. One day they were playing in the dessert and George had an accident, his ass was punctured by cactus thorn. So david was trying to get the thorns out off his ass, and when it comes the last thorn, George was kinda disturbed by David's breath on his ass. After that the intense scene was come and it is intense and makes me feel soooooooo jealous! I want david so bad! He's so cute, I think he's looks like my crush with the initial I!

Well, that's a little sharing about this two movies. I hope you guys like it and see you all soon! :D

Monday, July 16, 2012

I Love Them Both

So, recently I have a new crush(s).... Yes, they're two of them and I really attracted to them. Their initial is I and D... I think I already told about I, and D is another crush that really crush my heart into pieces. He's a basketball player and he's too much kind as a person... The thing is that they're both straight as they can be. And I really can't do anything about it because I have two reason. First, I would be a really bad person to make them gay. Second, I just don't want them to stuck like me, not good enough as a gay person but also can't like girls as much as like boys....

Ugh, I hate it when I already told them that I like (maybe love... I'm not sure) them, but all I get is the sympathy talk and rejection. But hey, I must be grateful because none of them hit me on the face right? I just hope that they can get a good partner who love them as much as I do...

I just want them to know that I love both of you and I really can't stop thinking of you two... I won't forget the smell of their body, their hand grip, the warmth of their body...

Monday, February 27, 2012

Friday, February 24, 2012

Davey Wavey


So, recently my new hobby is surfing YouTube. Why? Because I have my new favourite channel on YouTube. Which is Davey Wavey. He's a really funny person and full of idea. The most interesting thing about him is that his gay. And Davey Wavey is making his own channel and YouTube and it's totally great. He's not only giving an opinion or idea about gay people but also give solution and understanding from a lot of point of views. Of course because he has the hottest body in my opinion, he also giving an exercise video to make your body looked sexy!

In all of his videos, he always like giving opinion which sometimes kinda judging (I think it depends on his mood swing *bitch*) LOL. But, at least he has a point on saying all of those crap. It;s better than somebody who always live by somebody's opinion and have no principal!

Wanna see his picture? Well I will upload one but y'all can see all of his photos on www.breaktheillusion.com or go to your Facebook page and search for "Davey Wavey".
Davey Wavey

Being a Gay Man (repost from my old blog)

This summary is not available. Please click here to view the post.

Friday, February 17, 2012

Older or Younger Guys?

Hi All, I'm Luthfie. I'm 20 years old and I'm from Jakarta Indonesia. I'm making this new blog to share about my sexuality. For now I can call my self gay because I sat on few cock before but never ever put my cock in somebody's ass. I think I'm still affraid to do that. Anyway, I'm a college student, major in International Relation, single, I'm the second kid between my older and younger brother. My family is a moslem family and they belief that being gay is a really huge sin. Well, I don't have problem with that because it's what they belief.

Well, I think it's enough to talk about my background. Today I'm going to talk about which one do you prefer, Older or Younger guys?

For me, older is better since I'm a bottom so it's really nice to have someone who can guide you in daily life or on bed! LOL! And they can be a really responsible person because they have a more mature point of view. Maybe not all of the but most of them yes. The most interesting about older guys is that they have a different kind of sexy than younger guys. They body maybe not as hot as 20-something guys but trust me it's totally turning me on!

But sometimes, I imagine my self with a younger guys. I don't know, suddenly my urge to be the mature one is just come right up! And I really turned on by twinks or cute boys. By the way I'm chubby. My weight is about 105 kg or about 210 pound.

Well, that's my opinion about Older and Younger guys. If you want say anything, just comment bellow this blog. Oh, by the way this article is inspired by Davey Wavey when he talk about his date with a daddy! Okay, cheers!

Thursday, February 16, 2012

First Post on my New Blog

I decided to create a new blog because I don't want to mix my normal life with my gay life. I know I will get into trouble when I write "my normal life with my gay life". But it's just a matter of intrepetation nothing's personal.

I wish I can post as soon as possible now and then!

Cheers!